Tampilkan postingan dengan label Agamis Filosofis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agamis Filosofis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2023

Pesan Ke-20

 


Orang-orang banyak berbicara tentang kebenarannya masing-masing. Ada kebenaran yang disepakati seperti agama dan ada kebenaran yang hanya diakui secara individu seperti kebenaran perspektif. Terdapat banyak kesalahfahaman di dalam hidup ini. Karena manusia diberikan akal yang murni digunakan untuk berpikir, menyadari, mempelajari dan mengetahui. Tapi tidak semua orang yang menggunakan akal seperti demikian itu. Beberapa orang bahkan menggunakannya secara tidak murni dengan cara mengedepankan keegoisan yang ia paksakan agar diakui kebenarannya. Untuk mendapatkan itu, banyak orang yang saling menyerang satu sama lain. 

Contoh sederhananya seperti seorang anak yang ingin bermain bola, karena ia memiliki cita-cita sebagai pemain sepak bola yang hebat dan terkenal. Di sisi lain orang tuanya ingin anak itu belajar dengan tekun agar bisa mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Kedua-duanya sebenarnya sama-sama benar. Bagi sang anak, untuk mengejar cita-citanya menjadi pemain sepak bola yang hebat dan terkenal, bermain bola dan terus latihan adalah jalan yang benar. Tetapi bagi sang orang tua, membimbing anak untuk terus belajar dan harus mendapatkan nilai yang bagus di sekolah juga akan dianggap benar oleh orang tua. Kedua-duanya memiliki kebenaran menurut anak dan menurut orang tua. Inilah yang disebut dengan kebenaran perspektif.

Dengan adanya kebenaran perspektif tersebut, maka akan ada kesenjangan yang membuat antara anak dan orang tua selisih paham terhadap olahraga bola kaki dan belajar. Jika dilihat dari perspektif anak, karena cita-citanya menjadi pemain bola maka bermain bola adalah kebenaran yang harus ia lakukan. Dari perspektif orang tua, karena harus mendapatkan nilai bagus maka belajar yang tekun adalah kuncinya. Lalu di mana kesalahannya? Kesalahannya tidak ada. Hanya saja ada yang tidak sejalan atau kesalahpahaman antar anak dan orang tua. Lalu bagaimana cara mengatasi kesenjangan tersebut? Cara yang paling sederhana ialah menghargai kebenaran masing-masing orang.

Contoh menghargai kebenaran masing-masing orang seperti kebenaran anak dan orang tua tadi. Orang tua seharusnya bisa menghargai cita-cita anaknya yang ingin menjadi pemain sepak bola yang terkenal dan hebat. Hanya saja diarahkan dengan baik agar anaknya sungguh-sungguh menekuni hobinya tersebut. Boleh menyuruh anaknya belajar namun jangan larang mereka mengembangkan bakat yang telah ia miliki. Lalu anak juga demikian, juga harus bisa menghargai pendapat orang tuanya. Mungkin seorang anak bisa melakukan hobinya, namun terimalah opsi yang diberikan orang tua untuk tekun dalam belajar semampu anaknya saja. Jadi hobinya tetap jalan dan belajarnya juga tetap jalan.

Selain kebenaran perspektif, ada pula kebenaran yang telah disepakati. Salah satu kebenaran yang disepakati tersebut ialah kebenaran agama. Kebanyakan manusia mengakui kebenaran ini karena kuantitasnya yang sangat banyak. Agama telah disepakati oleh umat manusia untuk mengatur kepribadian atau individu dengan penuh budi pekerti yang luhur. Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari agama sekali pun, meski seorang tersebut adalah orang  ateis. Di sisi ketidakpercayaannya pada Tuhan, kaum ateis tidak mungkin tidak mengerti budi pekerti atau etika dalam kehidupan sosial. Hal yang mereka percayai sebagai suatu kebaikan sebenarnya juga merupakan bagian dari ajaran agama. Kebenaran yang disepakati ini sangat sulit untuk disalahkan karena memiliki landasan yang kuat dan sangat logis. Sehingga tidak bisa dibantah kebenarannya sekali pun dengan pemikiran yang paling cerdas. Jika kebenaran ini di klaim oleh salah satu kelompok dan kelompok tersebut menyalahkan kelompok lain dengan atas nama agama, sebenarnya kelompok tersebut belum beragama dengan baik dan benar. Sebab agama sangat menanamkan nilai-nilai kasih sayang dan budi yang luhur.

Ketika kita sudah memahami dua kebenaran tersebut lalu kita mengatasi problem yang ada pada kebenaran perspektif, maka kita akan terlepas dari kebenaran buta yang membuat hidup manusia tidak tenang walaupun sudah menganggap dirinya berada pada jalan yang benar. Karena benar yang dia maksud sebenarnya benar menurut dirinya sendiri. Sebab itu, untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah kita berlu teliti. Bahkan bisa saja kita melakukan penelitian terhadap kebenaran yang telah kita lihat atau kita dengar dengan telinga. Bisa jadi yang kita lihat dan kita dengar tersebut merupakan hipotesa yang harus kita uji kebenarannya melalui sebuah penelitian. 

Contohnya saat kita mendengar dari seseorang yang mengatakan "Si Fulan telah melakukan pencurian sepeda motor di Lokasi A". Orang bijak tidak akan langsung percaya begitu saja dengan tuduhan terhadap Si Fulan. Maka langkah yang bagus seharusnya kita melakukan mengolah terlebih dahulu informasi tersebut sebagai Hipotesa yang akan kita uji kebenarannya. Kita mulai dari melihat bukti-bukti yang ada hingga saksi-saksi yang berada di Lokasi A saat itu. Kemudian dari mana sumber informasi tersebut tersebar. Hingga kita menemukan titik yang benar-benar jelas dan didukung dengan fakta yang kuat. Barulah kita bisa mengambil kesimpulan apakah si Fulan benar-benar mencuri atau hanya fitnah belaka.

"Fahamilah semua kebenaran sebagaimana kita memahami keburukan. Bukan hanya keburukan yang perlu kita kepoin lebih dalam tetapi kebenaran juga seharusnya juga demikian"
-Zulpasmi-

Continue reading Pesan Ke-20

Kamis, 02 Maret 2023

MATI ADALAH KABAR GEMBIRA

KEMATIAN ADALAH BAGIAN DARI KEHIDUPAN


Halo semuanya, kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tapi berdasarkan pandangan dan pengalaman saya sendiri. Saya pernah mendengar dan membaca suatu kalimat dari sebuah film yang berjudul "Laal Singh Cadda". Kutipan kalimatnya ialah "Bukankah kematian juga bagian dari hidup". Ya, kalimat itu menurut saya sangat tepat. Mengapa? Karena pada dasarnya setiap yang bernyawa akan mati. Kalimat ini awam bukan? Tapi saya ingin lebih memperdalamnya dengan analogi hidup yang sesungguhnya. Apakah sebenarnya kita selama ini benar-benar hidup atau hanya suatu komponen organ yang membentuk tubuh? Dan kita hanya menumpang hidup di dalam komponen organ tersebut. Sebenarnya, sebagai makhluk hidup seharusnya kematian adalah pembahasan yang paling menyenangkan dan asik untuk dibicarakan. Menurut saya, anggapan-anggapan kematian adalah suatu yang menakutkan kurang tepat. Padahal banyak orang yang tahu bahwa kehidupan yang sebenarnya akan benar-benar dimulai pada saat kematian telah terjadi pada diri seseorang. Itu pun mungkin kalau benar-benar ia memulai hidup yang baru. Jadi, bagi saya seseorang yang mati tidak layak untuk diduka citakan. Mungkin lebih layak untuk kita suka citakan, karena ia telah lepas dari beban yang selama ini memenjarakan manusia yakni dunia. Betapapun hebatnya dunia ini memberikan manusia kebahagiaan, tetap saja dunia akan menjadi titik ukur kesengsaraan manusia setelah ia mati. Karena bagi kaum beragama, selayaknya dunia harus diimbangi dengan akhirat (kehidupan setelah mati). Tapi bagi kaum sophia mereka akan terus mencari kebijaksanaan hingga menemuKan satu titik mereka akan tetap hidup walaupun ada kata "mati" suatu saat nanti. Begitu pun kaum sufi yang bahkan menganggap hanya satu yang layak ada dan yang ada tersebut hidup selamanya (kekal). 

Sekarang pertanyaan baru mulai muncul, siapa yang mengisyaratkan kematian adalah kabar buruk untuk pertama kalinya sehingga harus disuka dukai? Bahkan dalam ajaran agama pun kematian tidak lain hanya sebagai pengingat bahwa semua yang hidup, cepat atau lambat juga akan mati. Kematian ini hanya dialami oleh setiap yang bernyawa. Lalu apa sebenarnya nyawa? Apakah nyawa itu memang benar-benar hidup atau selama ini kita salah kaprah dengan kata nyawa? Ternyata nyawa memiliki arti kehidupan, bukan hidup. Saya menganalogikan kehidupan dengan imbuhan "ke" dan "an" yang memiliki maksud tertentu dan bagi yang menggalinya lebih dalam akan mendapatkan satu arti yang sebenarnya dari nyawa yang diberikan kepada manusia. Secara bahasa, imbuhan "ke" biasanya digunakan keterangan status atau pun tujuan. Sedangkan imbuhan "an" biasanya membentuk suatu nomina abstrak dan konkret. Sedangkan hidup sebenarnya memiliki definisi mencari identitas diri. Bagi saya orang yang telah mengetahui makna hidup yang sebenarnya tidak akan mati. Mungkin ada yang mengatakan "si fulan telah mati", tapi saya meyakini bahwa si fulan itu hanya mati sebatas fisik. Selebihnya saya tidak tahu apakah ia benar-benar mati. Ini sama halnya dengan orang yang mengatakan "si fulan masih hidup, dia ada di sana" dan itu pun saya tidak meyakini si fulan tersebut apakah benar-benar masih hidup? Secara lahiriyah memang benar si fulan masih hidup. Memang semuanya masih memiliki misteri yang sangat sulit dipecahkan. Pertanyaan sederhana yang ada di awal paragraf ini bagi beberapa orang mungkin tidak penting dan tidak perlu dipertanyakan karena mereka hanya mengalir seperti sungai. Mengikuti arus saja dan tidak tahu kemana ia akan sampai. Apa yang orang katakan, selagi memiliki dasar berselimut agama ia akan ikuti. Tapi bagi saya ini sangat penting. Agar kesaksian yang benar-benar menyaksikan adanya yang ada dan saya harus menyadari apa yang ada di sekeliling saya apakah benar-benar makhluk hidup atau hanya sekedar mayat yang berjalan. 

Saya akan mengutip beberapa kata-kata di akhir statement yang menurut saya ada kaitannya dengan kematian dan kehidupan. Berikut beberapa kalimat tersebut:

"Janganlah bersedih, datang dan perginya seseorang di dalam hidupmu tidak lepas dari tanda tanya di hatimu. Kau hanya belum menemukan jawaban, bukan telah ditinggalkan" 
[Zulpasmi]

"Saya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan." 
[Socrates]

"Hal yang paling pasti dalam hidup ini adalah kepergian, karena pertemuan masih menjadi misteri"
[Zulpasmi]

"Dalam hidup ini, ada hal-hal yang tak ingin Anda lanjutkan, namun Anda terlalu takut untuk mengakhirinya."
[Socrates]

"Banyak yang menyukai senja, tapi mereka tidak sadar bahwa setiap hari hanya ada pagi yang selalu menyapa"
[Zulpasmi]

"Belajar dari kemarin, hidup untuk sekarang, berharap untuk besok. Hal yang paling penting adalah jangan berhenti bertanya."
[Albert Einstein]
Continue reading MATI ADALAH KABAR GEMBIRA

Rabu, 04 Januari 2023

2022-Setahun Kemudian



Januari 2022, tepat setahun yang lalu. Saya banyak belajar dari tahun tersebut. Ikhtiar, harapan, perpisahan, pengingkaran, keterasingan, kesendirian, pendam, dendam, ketidakpercayaan terhadap manusia hingga hampir tak percaya kepada Agama yang saya anut saat ini. Satu tahun penuh semuanya mengisi kepalaku yang sekarat. Tahun di mana saya menemukan beberapa jawaban yang kini melahirkan pertanyaan baru. Mungkin saja ini adalah hukum kausalitas yang hadir dalam hidupku pada September 2021. Tepat di mana kecerobohan demi kecerobohan yang saya lakukan tanpa berpikir matang. 2022 saya telah merubah banyak hal di dalam diri saya. Sebagaimana janji saya untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin. Tapi setelah perubahan demi perubahan yang saya lakukan dengan sungguh-sungguh, ternyata tidak memiliki efek apapun terhadap beberapa orang. 

2022 adalah rahasia saya yang mungkin tidak akan saya lafadzkan sedikit pun dan pada siapa pun. Saya akan membiarkan mereka mengasumsikan diri saya sebagai manusia terlebay dalam kegalauan-kegalauan yang selalu saya posting. Saya akan membiarkan mereka mencerna semua yang saya posting sesuai pemikiran mereka masing-masing. Saya sungguh tidak peduli itu. Setengah tahun pertama di tahun 2022, adalah perkembangan yang positif untuk saya bahkan saya hidup lebih produktif. Mungkin karena seseorang.  Namun setengah tahunnya lagi di tahun 2022, sungguh peristiwa yang sangat buruk terjadi. Entah kalian memahami "peristiwa buruk" itu seperti apa, yang jelas saya tetap akan merahasiakannya. Mungkin hanya dua orang yang mengetahuinya waktu itu. Tapi yang paham menurutku hanya Satu. 

Setengah tahun yang malang. Di mana luka-luka itu saling mengobati. Setengah tahun itu, saya memilih jalan sunyi. Saya memendamnya sendiri, tanpa bercerita pada siapapun. Mungkin itu alasan saya melukis kembali setelah sekian lama saya tidak pernah melukis. Memang berat! Saya tahu setiap orang memiliki masalahnya masing-masing dan solusinya masing-masing. Sebagian dari mereka, mungkin memiliki tempat untuk bercerita. Tapi tidak semua orang memiliki tempat cerita dan yang mau menceritakan masalahnya. 

Terimakasih tahun 2022 yang telah membuat saya seperti saat ini. Saya sudah tidak peduli lagi tentang wanita sebagai pasangan, saya tidak peduli lagi tentang perbuatan-perbuatan orang laik kepada saya, baik itu berupa kebaikan maupun keburukan, saya tidak peduli lagi perkataan-perkataan orang lain terhadap saya, saya tidak peduli lagi tentang ancaman-ancaman yang datang baik itu dari manusia maupun Tuhan. Saya berkata demikian, karena saya pecaya bahwa Tuhan sebenarnya tidak pernah mengancam siapapun. Saya hanya percaya bahwa Tuhan itu Maha Cinta dan Maha Mencintai.

Saya yang dahulunya penakut, sekarang rasa takut itu telah hilang. Saya yang dahulunya pendendam, sekarang segala dendam itu telah pergi. Saya yang dahulu bisa tertawa lepas, sekarang saya berusaha agar tertawa saya bisa pas dengan tawa-tawa orang sekitar saya. Saya tahu sekarang keburukan apapun yang terjadi adalah kesalahan saya. Lalu kesenangan apapun yang terjadi adalah jasa kalian semua. 

Saya belajar banyak hal di tahun 2022, setahun kemudian lagi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya dan saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada kalian. Terimakasih.


"Pertemuan itu adalah sesuatu yang sangat misterius. Jika kamu ingin sesuatu yang pasti, tunggulah perpisahan yang akan terjadi."

[Jambi, 4 Januari 2022] 

Continue reading 2022-Setahun Kemudian

Rabu, 20 April 2022

Semakin Kesini Kita Semakin Kesana


Saat kita sedang duduk termenung di sore hari. Menatap indahnya senja yang muncul hanya untuk sementara. Saat itu juga kita sering berpikir bahwa apakah hidup yang sudah kita jalani ini sudah benar? Hingga terkadang kita menganggap hidup kita sangat kacau sehingga membuat kita selalu bersedih. Karena ada banyak hal yang kita rencanakan tidak tercapai. Membuat kita putus asa seketika. 

Beberapa kali kita meyakinkan diri kita untuk bangkit lagi. Tapi ada saja orang-orang di sekitar yang menjatuhkan dengan berkata 'lebay', 'sok sedih', hingga ada yang berkata 'seperti hidup dia aja yang sedih mulu'. Percaya atau tidak kata-kata itu terkadang membuat kita tambah down dan sulit bercerita kepada orang lain. Kita akan cenderung berpikir bahwa tidak ada gunanya bercerita pada orang lain. Toh akhirnya kita akan diabaikan juga. 

Jangan begitu saudaraku! Perlu diketahui bahwa tidak semua orang demikian. Jadilah manusia positif baik dalam berkata, berbuat, hingga diam mu pun harus menjadi hal yang positif. Anggap saja perkataan-perkataan orang yang demikian menjatuhkan kita sebagai tangga yang rapuh dan mudah patah. Kita hanya perlu memperbaiki yang patah tersebut. Dengan apa kita memperbaikinya? Dengan cara menganggap perkataan negatif mereka tidak penting. Walaupun terdengar tidak menyenangkan di telinga kita, ada baiknya kita membalasnya dengan mendoakannya kembali dengan doa-doa yang baik. 

Mengapa penulis buat judul tulisan ini semakin ke sini kita semakin ke sana? Kiasan yang tepat untuk kalimat ini ialah terkadang kita yang menganggap hal baik itu dekat dengan kita ternyata masih jauh. Kebaikan yang kita anggap baik dan kita lakukan selama ini bisa jadi kebaikan yang tidak hakiki. Untuk memandang sesuatu itu baik, kita perlu memandang diri kita sendiri untuk sejenak melakukan penilaian atau yang lebih kita kenal dengan introspeksi diri. Apakah diri kita sendiri sudah benar-benar baik? Atau hanya baik dalam anggapan kita sendiri? Mengapa yang kita lakukan, kita anggap itu adalah hal yang baik tapi masih saja banyak orang yang menganggapnya tidak baik? Jawaban yang bisa saja membuka hati kita ialah kita memandang kebaikan itu dari segi keangkuhan kita. Sehingga membuat diri kita lupa kebaikan yang sesungguhnya. 

Lalu apakah perlu kita merubah kembali konsep kebaikan yang ada dalam diri kita? Sebagai seorang manusia yang berakal, berbudi luhur, agamis, dan berketuhanan. Tentu ini sangat penting, karena jangan sampai nanti kita menganggap diri kita sudah berbuat baik namun melukai banyak orang. Contoh yang banyak kita temui adalah kebaikan sedekah. Saat ini ada banyak orang yang bersedekah. Hal itu sangat baik, namun ketika orang tersebut mengekspos sedekahnya tersebut di sosial medianya. Tentu hal ini akan membuat malu orang yang menerima sedekah tersebut. Itu sebabnya amal ibadah sedekah kita kurang afdhal. Karena di sisi kita berbuat kebaikan, ada hati yang dibuat malu akan sedekah yang diberikan. Timbullah rasa sakit hati bagi sang penerima yang seharusnya menerima dengan senang hati, namun karena kesusahannya tereksplor. Membuat malu dirinya yang tidak mampu dan tidak berkecukupan tersebut.

Ada banyak makna dari 'makin ke sini kita makin ke sana'. Riya' juga salah satunya. Beribadah namun menginginkan pujian dari makhluk-makhluk bumi. Seolah-olah dialah yang paling ahli dalam beribadah, dialah yang paling ahli dalam menjelaskan ilmu-ilmu agama, ialah yang paling ahli dalam berdakwah. Hingga lupa esensi dari semua yang telah dilakukan tersebut yakni mencari Ridho Ilahi. Banyak orang terkecoh dengan kebaikan-kebaikannya sendiri. Sehingga ia merasa dekat dengan Sang Ilahi nyatanya sangat jauh dari Sang Ilahi. 

Oleh karena ini penting bagi kita untuk merevisi amal kebaikan yang kita lakukan. Jangan sampai ada keresahan saat kita melakukan amal-amal baik tersebut. Sekali pun untuk memberi nasihat kepada orang lain. Niatkanlah dalam hati bahwa seluruh amal kebaikan yang kita lakukan hanya untuk Ilahi Robbuna wa Robbul 'Alamin. Makan kesedihan kita saat senja hadir tidak akan menjadi vibes sedih, tidak akan menjadikan kita galau terus-menerus, bahkan perkataan negatif yang orang lain lontarkan sebagaimana penulis jelaskan di awal. Tidak akan terasa menyakitkan di hati kita. Sebab hati kita akan sangat tenang dan tidak akan peduli lagi dengan segala hal yang positif maupun negatif selain hanya peduli akan ridho dari Sang Khaliq untuk mendapatkan jalan yang lurus dan itu akan membuat jiwa kita menjadi Nafs Muthmainnah (Jiwa Yang Tenang).

Semoga tulisan ini bisa memberikan motivasi bagi kita yang jarang introspeksi diri. Penulis pun juga sering melakukan hal-hal yang salah. Oleh sebab itu, penulis memohon ampun pada Tuhan Yang Maha Esa dan mohon maaf kepada para pembaca sekalian. Apabila ada hal-hal yang keliru dalam tulisan ini. Marilah sama-sama belajar dan menasehati lillahita'ala. Semoga Tuhan mengampuni dosa kita semua. Aamiin.

Continue reading Semakin Kesini Kita Semakin Kesana