Kamis, 17 November 2022

Pesan Ke-18

 "Suatu hari aku akan pergi jauh dan kepergian itu akan kusebut dengan PULANG. Kalian bertanya kan, kapan aku pulang?"





Matahari yang sudah menyingkap langit agar orang-orang terbangun dan memulai aktivitas nya kembali. Sebagian orang sibuk ke sekolah, kerja dan ada yang di rumah saja. Waktu itu tepat pukul 9 pagi, seorang anak muda yang masih berada di atas kasurnya. Terus menerus memaksa matanya untuk terpejam. Meski tahu ia tidak mengantuk sama sekali. Meski matahari sudah bersinar terang dan membuat silau matanya. 

Seketika dari lalu lalang manusia-manusia yang penuh kesibukan itu datang memperhatikannya. Di sisi lain ibu dari pemuda tersebut telah membangunkannya. 'cukup tidurnya, cobalah pergi ke acara anak-anak muda itu. Lihatlah si fulan bergaul, punya banyak teman, dan ini dan itu....' ada banyak lagi ocehan yang keluar dari ibu pemuda tersebut. 

Datang seorang perempuan yang tak lain adalah kakak pertamanya. Ia bertutur 'sakit tapo e adek ko mak, tando e dak bangun-bangun'. 

Mungkin demikianlah gambarannya. Pemuda itu mendengar. Sambil memejamkan matanya dan menahan semua derai air mata, di kamar, SENDIRIAN. Sudah sejak dahulu ia tidak pernah cerita apapun dan pada siapa pun. Ia pandai mengarang-ngarang cerita seolah hidupnya mulus tanpa hambatan apapun. Ia pintar menyusun kalimat untuk memanipulasi orang-orang agar hanya diketahui sebagai orang yang tenang, berilmu, dan penuh kesopanan. Padahal aslinya tidak begitu. 

Sedari kecil ia sudah memendam, menahan, tanpa tahu cara bercerita dan harus memulai cerita dari mana, ia tak tahu. 

Suatu saat mungkin jika benar terjadi, pemuda itu akan PULANG ke kampung halamannya. Tempat di mana ia akan benar-benar tenang untuk selamanya. Mungkin kesalahan dirinya sendiri, mengapa ia memilih pendam? Mengapa tidak bercerita saja? Tutur orang yang tidak pernah merasakan ceritanya diadu nasib dengan cerita orang lain bahkan juga diadu nasib dengan yang mendengarkannya. 

Jika manusia memiliki masalahnya masing-masing, mengapa seolah manusia-manusia itu mengintimidasi permasalahan hidup orang lain dengan mencecar 'makanya begini, makanya begitu, dan sebagainya'

Nanti aku minta ada orang yang menabur bunga mawar dan melati bersamaan di atas rumah pemuda itu. Itu pun jika ada, jika tidak aku juga tidak apa-apa.

Dengan hati yang penuh maaf, pemuda itu akan selalu memaafkan siapapun. Dengan hati yang penuh kepasrahan, pemuda itu hanya bisa memendam, tentang apa-apa yang telah terjadi, yang ia rasakan, dan tentang motivasi hidupnya.

Surat ini spesial, dari pemuda tersebut yang aku tulis untuk mengabarkan kepada keluarganya dan orang-orang terdekatnya agar nanti mereka tidak terkejut jika pemuda itu sudah PULANG ke kampung halamannya.

Jambi, 17 Nov 2022
Continue reading Pesan Ke-18

Selasa, 15 November 2022

Pesan Ke-17

 "Taburkan lah bunga mawar selagi aku hidup, kelak melati belum tentu tumbuh saat aku sudah mati"



Nampaknya sudah terlambat, jika seseorang mencoba untuk memberiku semangat. Masalah nya bukan di luar seperti yang terlihat lagi, namun sudah terselubung di dalam ruang-ruang ingatan. Waktu pun tak ingin mengusut tuntas tentang sirat pendam di dalam benak ku.

Orang-orang juga berbicara tentang takdir. Sedangkan mereka tidak tahu isi takdir itu sendiri. Seperti bunuh diri contohnya. Banyak istilah seperti 'mendahului takdir' yang terus terucap dari mereka yang masih normal secara mental. Tapi apakah mereka pernah mengira bahwa seseorang yang bunuh diri, mungkin juga itu yang tertulis di takdir mereka. Bukankah kematian itu takdir? Siapa yang bisa mengetahui seseorang akan bunuh diri? Siapa yang mengetahui penyebab orang itu akan bunuh diri? Aku membela mereka, karena yang aku lihat mereka hanya daun kering yang telah lama gugur, lalu orang-orang menyiraminya air. Berharap daun yang telah lama gugur tersebut tumbuh menjadi pohon. Padahal tidak demikian konsepnya.

Mereka melihatnya sederhana, sangat sederhana. Itu sebab nya mereka selalu menyayangkan orang-orang yang mati bunuh diri. Bagi mereka itu adalah hal yang konyol dan bodoh. Tapi apakah mereka merasakan apa yang orang mati bunuh diri itu rasakan? 

Mawar,
Bunga yang sangat aku sukai sejak Desember 2021. Sebelumnya aku juga menyukai setangkai bunga lain, bunga itu adalah bunga melati. Sekarang aku memiliki dua bunga yang aku sukai, bunga mawar dan bunga melati. Namun tampaknya, bunga mawar lebih menghidupkan alam sunyi ku. 

Bunga melati,
Nanti giliran mu yang harus tumbuh saat aku mati. Tebarkan aroma mu yang semerbak itu pada setiap sembilu di hati orang-orang yang suka memendam. Kendati demikian, aku sudah pernah berusaha keras menghidupkan mental ku kembali. Tapi ada suara-suara manusia yang mengusiknya. Mereka tidak tahu betapa berisiknya kepala ini. Tapi ya sudah lah. 

Nanti aku hanya akan berpesan, mawar ku tidak boleh ada yang menyentuhnya. Melati ku harus menggantikan mawar itu saat aku mati. Ingat! Hanya ada setangkai bunga mawar dan melati. Di antara mereka, bunga mawar yang hidup selama aku hidup harus ikut mati jika aku mati. Bunga melati yang sedari dahulu mati saat aku hidup, ia harus tumbuh saat aku telah tiada untuk selamanya.

Penuh sirat kata yang aku cantumkan dalam surat kali ini, penuh filosofis yang jika dikupas kalian akan menemukan penyebab aku mati, suatu hari nanti ^_^
Continue reading Pesan Ke-17

Senin, 14 November 2022

Pesan Ke-16

 Dear Jodoh | 14 November 2022



Dahulu aku sangat mahir dalam mengelola perasaan, menjalani sebuah hubungan dan menjaganya. 

Teruntuk jodohku. 
Aku pernah berdoa keras agar segera dipertemukan dengan mu. Bahkan aku selalu berpuisi, agar kicau ku terdengar merdu dari kejauhan dan aku berharap kau mendengarnya. 

Sekarang, setelah waktu-waktu yang terus berlalu dengan penuh kekosongan. Harapan ku tentang jodoh musnah sebagaimana harapan ku terhadap cita-citaku. 

Teruntuk jodohku.
Maaf jika nanti aku tidak seperti manusia-manusia lain. Aku pun demikian akan selalu memaafkan mu. Perlu untuk dirimu ketahui, aku adalah seorang yang aneh. Memilih tempat-tempat gelap sebagai rumah ternyaman ku. Begitu pun kebiasaan ku, aku memiliki kebiasaan yang aneh, yakni kebebasan yang selalu aku lakukan sesuai apa yang ada dipikiran ku.

Tapi lagi-lagi aku harus mengucap maaf, jika aku tidak kau temukan. Mungkin saja aku akan kembali pada-Nya lebih dahulu dari yang ditakdirkan. Bisa jadi, itu juga karena takdir Tuhan yang membuat jalan ceritanya demikian.

Teruntuk jodohku.
Aku akan selalu mendoakan mu di mana pun kamu berada. Aku akan sangat bersyukur jika nanti kamu menerima aku dengan segala keanehan ku. Ada banyak keanehan yang nanti kau lihat hanya dengan cara berjalan beriringan dengan langkah kaki ku.

Tuhan mungkin belum mengizinkan kita bertemu sekarang. Namun seandainya kita sudah kenal sebelumnya sebagai seorang teman atau sahabat. Aku akan membukakan semua topengku pada mu. Agar kelak kau tidak menyesal menerima ku saat aku memilih mu. 

Untuk jodohku.
Jika kau memiliki kekurangan, apapun itu. Jangan sungkan untuk kau paparkan. Karena sejatinya aku, jauh lebih tidak sempurna. Tujuannya hanya satu, yakni 'KITA SALING MENUTUPI KEKURANGAN'. Entah dengan cara saling menghibur, berbagi cerita, saling mengerti, hingga saling memaafkan.

Mungkin mimpiku tentang jodoh sudah redup. Aku harap nanti kau datang menyalakan ruangan gelap di hatiku. Tinggal lah di sana! Semoga kau nyaman dengan suasana sunyi nya. Aku akan menjaga mu, jika sempat bertemu. 

Semoga kau selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Mencintai. 



Jambi, 14 November 2022
-Zulpasmi-

Continue reading Pesan Ke-16

Minggu, 13 November 2022

Pesan Ke-15

 "Ketika manusia lupa bahwa Cinta hanyalah iming-iming di mata pendusta. Mereka hanya ingin sesuatu yang menguntungkan, bukan yang membutuhkan"




Di antara manusia-manusia itu, ada yang menamakan rumah sebagai tempat tinggal untuk berlindung dari cuaca. "Cuaca apa?" Tanyaku kebingungan. Bukankah hujan bukan hanya tentang jatuhnya air dari langit ke bumi? Tapi juga ada hujan yang jatuh dari mata dan melewati pipi.

Di antara manusia-manusia itu, ada pula yang menamakan rumah sebagai tempat pulang, tempat peristirahatan ternyaman dan teraman setelah seharian beraktivitas. Lantas, apakah yang disebut pulang hanya tentang rumah? Bukankah suatu hari kau, aku, dan kita semua akan pulang namun tidak ke rumah melainkan kembali pada Tuhan.

Jika banyak suara di jalan-jalan yang kau lalui, lalu membuatmu pusing karena berisik. Lantas apa gunanya sunyi malam yang kesepian. Bukankah sunyi adalah hati yang kosong meski kepala dipenuhi benang kusut, tinta yang tumpah, dan awan gelap? Bisakah manusia-manusia itu merasakan?

Atau manusia-manusia itu sudah berkamuflase menjadi makhluk yang menyeramkan? Entahlah aku tidak tahu lagi. 

Sesak! Iya sangat sesak. Aku tidak tahu apa yang mengusikku setiap hari. Mereka bergemuruh dan sangat berisik. Hingga aku mencari suasana yang lebih berisik dari berisiknya kepalaku. Nyatanya tak ada yang lebih berisik dari isi kepalaku.

Apakah harus ada obat penenang? Atau aku harus memilih tenang untuk selamanya? Entahlah aku tidak tahu lagi.

Saat disuruh pulang, dada ku langsung sesak, jantungku seketika berdegup kencang dan kecemasan menjajah isi kepala. Entah itu karena pulang ada kaitannya dengan rumah atau dengan isi rumah tersebut.

Mungkin suatu saat seisi rumah itu akan bertanya-tanya kemana anak itu pergi? Seisi rumah itu tidak akan tahu bahwa anak itu bukan pergi, namun ia telah mati. 

Raganya hanya akan menjadi simbolis bagi harapan-harapan yang mereka gantung tinggi setinggi khayalan anak itu tentang cita-citanya. Ia hanya akan merasa gagal untuk menjadi apapun dan siapapun.

Untuk sekian kalinya aksara itu mengipaskan tangannya untuk melerai nebula agar impiannya terasa nyata dan tak membuatnya kecewa. Hingga nanti, saat ia pulang untuk selamanya dan benar-benar tak lagi kembali.



Continue reading Pesan Ke-15

Senin, 07 November 2022

Pesan Ke-14

 "Aku ingin berpuisi, tapi tak tahu untuk siapa? Aku hanya ingin menyuarakan sunyi yang ada di hati dan berisik yang menggema di dalam kepalaku"





Aku ingin berpuisi. Tapi tak tahu diksi mana yang harus ku pilih dari sekian banyaknya serpihan luka di hati. Mereka menyerbuku untuk menusuk-nusuk alam pikiran. Tak tahu mana yang menunjukkan kepedihan mendalam antara luka yang tak berdarah atau linang air mata yang berkaca-kaca.

Aku ingin berpuisi. Sebagaimana sunyi bernyanyi di kepalaku. Dengan beberapa bait lirik yang mengisahkan seorang pria pendiam lagi menyendiri. Pria itu tumbuh sebagai keinginan orang tuanya. Jika tidak ikut 'durhaka' katanya. 

Aku ingin berpuisi. Di tiap-tiap jalan yang menyembah kenangan. Mereka selalu menabur mawar tanda duka atas hilang arahnya seorang pria. 

Di manakah seorang pria yang pernah meninggalkan topi merah putihnya saat SD itu? Masih hidup? Atau hanya terlihat hidup?

Aku ingin menyembah malam. Dengan segala gelapnya yang mencekam. Bahkan butuh beberapa lilin untuk menerangi jalan, sialnya seorang perempuan menghembusnya dengan kejam. 

Aku ingin menghamba pada sunyi, nyatanya ia telah diusik oleh orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah rumah dan merekalah tempat pulang.

Apakah rumah itu benar-benar layak untuk dihubungkan dengan kata 'pulang'. Atau sejatinya rumah itu hanya penjara di dunia yang penuh kisah-kisah kejam?

Aku tidak tahu sejauh mana depresi ini menjajah otakku. Berpuluh tahun merawat luka. Hingga pendam yang mulanya ingin dendam. Sekarang pendam itu menjadi peredam, bagi harapan yang hilang dari mata seorang pria. 

Tentang cita-cita yang tak lagi hidup, tentang tujuan hidup yang ditelan waktu dan tentang malam-malam yang menyimpan rahasia pria malang itu. 
Continue reading Pesan Ke-14

Minggu, 28 Agustus 2022

Pesan Ke-13


Banyak yang berbicara tentang cinta namun masih ada benci dan dendam di hatinya. Banyak yang memotivasi tapi masih ada penghinaan darinya. Banyak yang hadir namun hanya sebagai pengantar bukan pendamping. Apakah ini kemauan mu ya Tuhan?

Kita adalah awan yang bergerak ditiup angin. Aku tidak memiliki pesan apapun sampai awan itu lenyap sebagai hujan dan hadir membawa kehidupan di bumi. 

Aku tidak pernah membayangkan seperti apa hidupku di masa depan. Aku juga tidak pernah menduga bagaimana nantinya aku akan bangkit kembali. 

Terkadang kita memiliki sesuatu untuk diceritakan namun tidak ada telinga untuk mendengarkan, yang ada mulutnya yang akan menggubris setiap celah cerita itu. 

Lelah sebenarnya. Iya sangat lelah. Dua kali percobaan bunuh diriku gagal. Entah dengan hari esok. Rifa'i Rif'an dahulu pernah memotovasi seperti ini:

"Hidup sekali, berarti, lalu mati"

Tapi jika tidak berarti bagaimana? Berarti atau tidak yang pergi meninggalkan akan tetap meninggalkan. Baik yang menyenangkan atau yang menjengkelkan semuanya pasti akan berlalu. Namun jika dikenang pasti berdampak juga untuk kehidupan di masa sekarang.

Kita melewati bebeeapa momen indah dalam hidup kita. Ada keindahan yang bertahan hingga sekarang, ada pula yang telah lenyap dan usang.

Pesanku untuk siapapun yang merasa:

"Mungkin kamu mengenalku, tapi tidak dengan ceritaku. Mungkin kamu melihatku dengan telinga, tapi tidak dengan mata. Setiap orang memiliki kecewaan dan kebahagiaannya masing-masing. Kau boleh jadi melihat luarnya penuh dengan bahagia, namun tidak di dalamnya. Begitupun sebaliknya. Jika ada orang bercerita pada mu dengarkan sajalah jangan komentari dalam waktu dekat. Kau boleh memotivasinya tapi jangan mengomentarinya. Karena memotivasi dan mengomentari itu sangat jauh beda. Dan kamu........."

Ya udahlah ga lanjut lagi nulisnya entah gimana karirku jangan ditanya lagi

Continue reading Pesan Ke-13

Minggu, 14 Agustus 2022

Pesan Ke-12


"Pemandangan yang indah di sore hari dan aku tidak lagi melihat wajahnya yang berseri"

Iya. Mereka-mereka benar. Aku harus melangkah demi terus hidup. Terkadang kita memilih apa yang kita suka. Tapi itu membuat hidup kita terus terluka. Terkadang pula kita membenci hal baru yang tak sama dengan masalalu. Padahal itu adalah obat bagiku. 

Sekarang aku baru sadar dan sangat berterimakasih atas orang yang telah membuat aku sadar. Mengapa? Banyak orang yang tersakiti hanya karena aku menceritakan masa lalu dan menganggap tidak penting orang baru. Banyak di antara mereka yang tidak sekedar suka tapi lebih dari itu, mereka juga memiliki rasa. Apapun itu, sungguh aku minta maaf.

Aku melupakan bahwa hidup ini layaknya layang-layang. Kita terbang dan ditiup oleh angin. Hanya dua kemungkinan, kalau tidak putus maka layangan itu akan ditarik kembali. Sama hal nya dengan hidup. Kita diterbangkan oleh angan-angan lalu diputuskan oleh harapan atau diberi keberuntungan dengan terwujudnya suatu harapan.

Manusia memang makhluk aneh. Memiliki akal pikiran yang bisa menundukkan penduduk bumi lainnya. Tidak ada yang lebih tinggi dari manusia. Tapi manusia bisa dilemahkan oleh waktu, nafsu, dan kematian yang semua itu dipegang kendali oleh Tuhan Yang Maha Menciptakan. 

Jujur ini adalah pengalaman pertama ku setelah lama aku tidak memikirkan diriku sendiri. Tentang dua orang yang berani angkat bicara tentang diriku. Kalau tidak begitu, entah bagaimana lagi pikiran ku. Mereka adalah T dan S. Salah satunya aku suka. Cara dia berperilaku dengan spontanitas adalah tipe orang yang aku suka. Karena aku tidak suka orang yang lurus-lurus saja dan meng-iya iyakan saja. Berkat mereka aku mengerti apa yang harus aku lakukan. Terimakasih dua orang hebat. 

Masalah pertama hampir ditemukan jawabannya. Masih ada empat masalah lainnya yang belum diketahui siapa pun. 

Satu lagi, ketika pulang dari nongkrong malam itu. Aku menyingkronkan kalimat yang kalian buat pada malam itu:

"Tidak ada yang mau dengan orang yang belum selesai dengan masalalunya"

Kalimat yang paling Top bagiku. Aku sinkron kan dengan salah satu arti lirik lagu Bollywood:

"Apakah kita sejua ada dalam sebuah kisah? Atau mungkin ada kisah dalam setiap diri kita?"

Terimakasih sekali lagi. Aku akan terbuka untuk orang baru. Akan mencoba sebisa mungkin. Siapa pun itu. Mungkin tantangan sendiri bagiku karena sekarang aku tidak suka terang-terangan. Jadi, ga apa-apalah ya lewat gelap. Hehe.

Thanks 'T' and 'S'
Continue reading Pesan Ke-12