Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Oktober 2024

Pesan Ke-22

"Percayalah bahwa semua yang buruk datang karena dua hal, pertama karena kita pernah berbuat buruk sebelumnya dan kedua karena kita tidak pernah ikhlas melakukan kebaikan."


Di antara kalian ada nggak yang pernah merasa kecewa karena telah bertemu dengan orang yang sifatnya buruk dan membuatmu sakit hati? Kemungkinan itu adalah karma yang datang kepadamu. Kamu harus menerimanya. Karena mungkin rasa sakit yang kau terima sekarang ini sama hal yang dengan rasa sakit yang orang lain pernah terima dari perbuatanmu sendiri. Kemungkinan kedua kamu kecewa karena kamu tidak ikhlas berbuat baik. Ikhlas merupakan kunci untuk hidup bahagia. 

Ada kisah sebut saja namanya Insan Kamil seorang pria yang berperawakan religius. Dia selalu berbuat baik kapada kekasihnya. Tapi dia berharap dengan perbuatan baiknya tersebut dia tidak ditinggalkan oleh kekasihnya. Alhasil dia selalu merasa kecewa dan bersedih hati setiap kali ada ancaman untuk berpisah dengan sang kekasih. Insan Kamil tersebut tidak menyerah dan terus memperbaiki yang salah sehingga selalu meminta maaf tanpa memperdulikan siapa yang benar dan salah. 

Rasa sedih dan kecewa yang tergambar pada cerita diatas merupakan dampak dari ketidakikhlasan Insan Kamil dalam berbuat baik. Dia berbuat baik hanya untuk mempertahankan hubungan sehingga lupa apa esensi dari menjalani hubungan hingga membangun hubungan baik itu sebagaimana seharusnya.

Kisah kedua adalah kisah dimana karma tersebut benar-benar ada ialah Nyla seorang wanita yang dicintai hebat oleh seorang pria bernama Purnomo. Namun suatu ketika Nyla bermain hati di belakang Purnomo dan berselingkuh. Karena media sosial saat ini sangat canggih dan mudah diakses. Informasi selingkuh tersebut sampai terdengar di telinga Purnomo. Rasa sesak di dada karena sakit mendengar kekasinya selingkuh di belakangnya sungguh tidak terobati. Pertama kalinya Purnomo dipermainkan seprti itu hingga akhirnya ditinggalkan oleh Nyla yang lebih memilih Bima yang merupakan selingkuhannya, Selang beberapa bulan Nyla jatuh sakit dan dirawat inap di salah satu rumah sakit di kotanya. Selama Nyla sakit pacarnya Bima tidak pernah menjenguk dan akhir-akhir ini tidak memberi kabar kepada Nyla. Karena Nyla sakit Bima yang kerja mungkin merasa bosan tidak ada menemaninya jalan-jalan malam. Akhirnya Bima berkenalan dengan wanita lain nama Sinta. Tanpa sepengatahuan Bima kalau Sinta merupakan kawan sekolah Nyla dulunya. Sinta juga tidak tahu kalah Bima adalah pacar kekasihnya. Dirasa nyaman akhirnya Bima berbicara kepada Nyla dan mengungkapkan rasa ingin berpisahnya dengan Nyla. Nyla yang baru siuman pun merasa sedih kenapa itu bisa terjadi. Nyla merasakan sesak di dada karena sakit mendengar pernyataan yang diungkapkan Bima. Selang beberapa hari Sinta mengetahui kalau Bima dan Nyla ternyata memiliki hubungan. Karena merasa bersalah Sinta mengaku telah melakukan pendekatan dengan Bima karena ajakan Bima itu sendiri. Dia tidak tahu kalau Bima adalah pacar Nyla. Mendengar cerita dari Sinta, Nyla merasakan sesak di dada karena mendengar kekasihnya selingkuh di belakangnya sungguh tidak terobati. Nyla tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa nangis, diam, dan berpasrah. Tapi Nyla merenungi rasa sakit nya dan mencoba intropeksi diri. Mungkin Tuhan mengirim Bima sebagai alat untuk melakukan karma agar Nyla bisa merasakan apa yang dirasakan Purnomo dahulunya. 

Pesan moral dari cerita kedua tersebut yakni karma bisa saja datang lewat peristiwa yang bahkan dilakukan oleh orang tercintamu. Namun kamu tidak sadar. Cak Lontong pernah berkata "Ketika kamu bilang biarkan tuhan yang membalasnya, yang harus kamu tahu bahwa yang kamu alami sekarang adalah balasan dari tuhan". Jadi jangan selalu menyalahkan orang lain saat rasa sakit, kecewa, yang mereka perbuat kepadamu. Bisa jadi orang yang membuatmu sakit tersebut ada peran Tuhan dalam menunjukkan keadilannya tentang "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.

Pesanku kepadamu wahai kekasih, teruslah berbuat baik walau di sekitarmu buruk. Filosofi menjadi mata air bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Putuslah mata rantai karma dengan intropeksi diri, ikhlas, dan selalu berbuat baik.


Continue reading Pesan Ke-22

Kamis, 25 Mei 2023

Pesan Ke-19


Malam ini indah ya. Rembulan bersinar lembut dan menembus celah-celah daun. Membias remang saat menembus kaca jendelaku. Aku tak ingin malam ini berakhir begitu saja. Seolah ingin selamanya ku hentikan waktu. Kakiku mulai sejuk, karena angin malam yang terus membelainya. Namun ku biarkan saja mereka bermesraan. Sunyinya malam tak dapat ku bubarkan. Karena di sana ada imajinasiku yang ku bentang luas seluas semesta. Harapan tentu saja pasti ada. Ia hadir seperti kunang-kunang yang sekestika datang entah dari mana arah kedatangannya. Aku berharap tidak tau soal itu. Tetapi bintang-bintang bersuara merdu, memberitahukan bahwa kamu telah hadir dalam hidupku. 

Awalnya aku tidak percaya sama sekali kalau cinta itu nyata di dalam dada. Sebab aku meyakini cinta itu tertanam di dalam hati. Ternyata aku salah dalam beranggapan. Cinta bersemayam di dalam jiwa yang suci. Ia duduk tenang sambil memilih dan memilah rindu mana yang tepat untuk disajikan pada aku yang sedang bersedih. Kesedihan ini bukanlah akibat kekecewaan yang telah mengiris hati. Tapi disebabkan oleh ketiadaan dirimu yang membuatku resah dan semakin gelisah. Sedih yang mengalirkan air mata ke bumi yang tak tahu apakah sebelumnya mereka sudah berjanji atau belum. Namun demikianlah adanya. Baik aku atau siapa pun tidak akan tau apa yang telah disampaikan air mata itu ke bumi. Aku tidak berharap banyak untuk mengetahuinya. Tapi aku berharap dari tetesan air mata itu akan tumbuh benih cinta di hatimu.

Duhai malam, dapatkah kau mengendalikan diriku. Aku terbang di antara bintang-bintang yang terang benderang. Yang cahayanya tak dapat ku hitung berapa kecepatan yang dibutuhkan untuk sampai ke mataku yang buta ini. Aku telah membuang jam tanganku untuk itu. Sebab waktu bagiku bukan hanya detik yang berputar di jam tangan maupun jam dinding. Waktu bagiku adalah sebuah ruang yang tak akan dimengerti siapa pun. Seperti kecepatan cahaya bintang yang sampai ke mataku. Ia menyentuhnya dengan lembut, lalu keluarlah peri yang cantik mengelilingiku. "sedang apa?" tanya peri-peri cantik itu. Aku tidak percaya mereka ada tepat di depan mataku. Tapi itulah kenyataannya. Mereka mengajakku untuk berkeliling hutan. Membelai rumput-rumput seperti angin meniupkan daunnya. Memetik bunga yang tetap harum setelah aku pisahkan dengan batangnya. Aksara yang kini terukir diantara rasa sedih dan gembira sudah seperti nebula yang mengelilingi kepalaku. Tak satu nebula pun yang tak ku sapa. Mereka bercerita tentang lorong kosong. Manusia tidak akan mampu menggapai lorong tersebut.

Kemudian aku pulang kerumah. Tampak indah tempat tidurku yang telah dihiasi dengan bunga-bunga. Harumnya yang semerbak tak lagi ku hiraukan karena kenyamanan yang aku rasakan saat berbaring di sana. Aku berharap, kamu ada di sisiku pada waktu yang bersaman. Lalu kita bercumbu sambil merayu-rayu sunyi untuk ikut membungkam malam. Tapi malam malah protes pada kita berdua. Katanya ia ingin ikut bersenggama dengan sunyi. Karena telah lama mereka pecah karena siang tak kunjung senja. Hingga akhirnya kita tertidur pulas di malam yang sunyi. Hanya merekalah yang menjadi saksi betapa aku dan kamu telah menyatukan hati.

Teruntuk kamu, jangan pernah bosan menghadapiku. Aku adalah renjanamu yang bebas kau ekspresikan dalam setiap diksi, puisi bahkan dongeng pengantar tidurmu. Aku berharap kita berkumpul kembali bersama nebula yang indah. Nanti aku gantungkan harapanku di sana dan kau juga harus demikian. Setelahnya kita ayunkan untuk membiarkan harapan itu mengayun tertiup angin. Kau mungkin suatu saat merindukanku. Beberapa detik suaraku yang mendarat di telingamu akan membuatmu kegirangan bahagia. Dan kau mengulanginya beberapa kali hingga kau lupa itu hanya suaraku, bukan diriku. 

Pada akhirnya kita akan kembali menghantam langit dengan awan hitam. Menggoyangkan keimanan hanya demi suatu kepercayaan. Namun siapa sangka, suatu saat kita akan mewarnai langit dengan cerahnya sinar mentari. Pagi akan tiba kekasih. Itu dia mentari yang kita tunggu, hadirnya yang tidak disadari itu akan kita beri penghargaan berupa telaga kautsar yang abadi. Kita akan menatap langit bersama, kau menggenggam tanganku. Pun aku juga akan demikian. Lalu bersama melangkah menuju satu tempat yang sama. Yang orang-orang bilang namanya surga. 

Continue reading Pesan Ke-19

Jumat, 03 Maret 2023

KEHIDUPAN SELANJUTNYA

 "Hingga saat ini kematian masih menjadi misteri bagi semua orang yang masih hidup. Entah ada apa di balik kematian semua orang tidak tahu secara pasti. Mereka hanya tahu bahwa mati adalah kepastian"



Duahulu saat saya masih kecil saya berpikir kemana perginya orang-orang yang sudah meninggal. Apakah terkubur begitu saja atau mereka berpindah ke dalam alam yang lain dan lebih sempurna? Saya juga pernah berpikir apakah benar setiap orang yang meninggal akan menjadi salah satu bintang di langit? Beragam pertanyaan sudah muncul saat itu. Tidak tahu alasannya kenapa, akan tetapi itulah pikiran anak kecil yang belum tahu apa-apa dan sangat ingin tahu tentang kehidupan setelah kematian. Sampai akhinya saya berkhayal banyak hal tentang kehidupan setelah kematian. Entah ini adalah pikiran yang benar atau salah. Saya tidak terlalu memperhatikan kebenaran dan kesalahan waktu itu. Saya tidak ingin memenjarakan imajinasi saya di dalam kebenaran atau pun kesalahan, yang merupakan belenggu selama ini menggantung umat manusia. Hingga mereka membunuh Tuhan dengan kebenaran yang mereka klaim secaransepihak.

Waktu itu saya membayangkan jika manusia mati akan hidup kembali. Tetapi bukan seperti gambaran yang telah dijelaskan manusia pada umumnya. Hidup kembali yang saya maksud adalah reinkarnasi manusia ke bentuk yang lain. Misalnya si fulan meninggal dunia dan saat ia telah dikuburkan maka ia akan hidup lagi sebagai tumbuh-tumbuhan, udara, hewan, awan, pasir dan sebagainya. Jadi, manusia mati tidak serta merta mati. Tetapi melanjutkan kehidupan selanjutnya dalam bentuk yang berbeda pula. Ini adalah pikiran seorang anak kecil yang membayangkan sesuatu saat ia penasaran. 

Secara rasional, hal ini mungkin saja tidak bisa diterima karena tidak ada landasan apapun yang mendasari bahwa manusia yang telah mati akan hidup lagi dalam bentuk makhluk hidup lainnya. Siklus ini terus berkembang di otak saya pada saat saya belajar IPA di SMP. Mempelajari bagian-bagian alam semesta yang tidak tahu pasti luasnya seperti apa. Karena saya yakni, manusia yang tinggal di bumi saat ini hanyalah bagian terkecil dari yang paling kecil di alam semesta. Bukan karena ingin menentang pemikiran-pemikiran yang telah dibangun oleh agama selama ini. Tapi hanya penasaran dengan sesuatu yang biasanya wajar diterima oleh akan dibalik menjadi sesuatu yang tidak wajar diterima oleh akal. Contohnya, adanya kehidupan di akhirat yang katanya manusia akan kekal di dalamnya. Jika ia dimasukkan ke dalam neraka, maka ia akan kekal selamanya di neraka kecuali orang-orang yang mendapatkan belas kasihan dari Tuhan lalu memasukkannya ke dalam surga. Sebaliknya, jika seseorang masuk ke dalam surga, maka ia akan kekal selamanya di surga. Lagi-lagi kita tidak akan tahu apa-apa soal kehidupan di sana. Kita hanya diberikan gambaran tentang apa dan bagaimana yang sebenarnya akan terjadi saat kita telah melewati fase mati. Sejauh ini kita dituntun untuk mempercayai dan meyakini hal yang mustahil untuk dibuktikan. Karena semua telah dicekoki oleh kesaksian buta yang berdalih akan mendapatkan kebahagiaan abadi  atau kesengsaraan abadi sebagaimana yang telah saya jelaskan tadi.

Lalu apapun yang akan terjadi setelah manusia mati, kita semua tidak mengetahui apapun soal itu. Tapi menurut saya sendiri, selain harus mempercayai dan meyakini adanya akhirat sebagai kehidupan selanjutnya. Hendaklah kita bisa meyakinkan diri kita sendiri tentang kehidupan setelah kematian tersebut. Karena saya pernah membaca "Keyakinan buta akan jauh lebih berbahaya dari pada kebohongan". Jika benar kalian meyakini kebenaran adanya akhirat, maka yakinkan terlebih dahulu dirimu sendiri. Sebab kebenaran yang dibungkus oleh sebagian kaum beragama bisa saja digunakan untuk menguasai diri mu hingga kamu lepas kendali dan dipaksa tunduk tanpa diperbolehkan menggali lebih dalam lagi akan makna yang sesungguhnya dari akhirat. Hingga akhirnya saat kamu bisa menjawab semua yang dipertanyakan orang-orang yang meragukan kebenaran adanya akhirat yang telah dikemukakan oleh agama yang kau anut.

Semoga bisa memahami dan teruslah bertanya untuk berpikir.
Continue reading KEHIDUPAN SELANJUTNYA

Kamis, 17 November 2022

Pesan Ke-18

 "Suatu hari aku akan pergi jauh dan kepergian itu akan kusebut dengan PULANG. Kalian bertanya kan, kapan aku pulang?"





Matahari yang sudah menyingkap langit agar orang-orang terbangun dan memulai aktivitas nya kembali. Sebagian orang sibuk ke sekolah, kerja dan ada yang di rumah saja. Waktu itu tepat pukul 9 pagi, seorang anak muda yang masih berada di atas kasurnya. Terus menerus memaksa matanya untuk terpejam. Meski tahu ia tidak mengantuk sama sekali. Meski matahari sudah bersinar terang dan membuat silau matanya. 

Seketika dari lalu lalang manusia-manusia yang penuh kesibukan itu datang memperhatikannya. Di sisi lain ibu dari pemuda tersebut telah membangunkannya. 'cukup tidurnya, cobalah pergi ke acara anak-anak muda itu. Lihatlah si fulan bergaul, punya banyak teman, dan ini dan itu....' ada banyak lagi ocehan yang keluar dari ibu pemuda tersebut. 

Datang seorang perempuan yang tak lain adalah kakak pertamanya. Ia bertutur 'sakit tapo e adek ko mak, tando e dak bangun-bangun'. 

Mungkin demikianlah gambarannya. Pemuda itu mendengar. Sambil memejamkan matanya dan menahan semua derai air mata, di kamar, SENDIRIAN. Sudah sejak dahulu ia tidak pernah cerita apapun dan pada siapa pun. Ia pandai mengarang-ngarang cerita seolah hidupnya mulus tanpa hambatan apapun. Ia pintar menyusun kalimat untuk memanipulasi orang-orang agar hanya diketahui sebagai orang yang tenang, berilmu, dan penuh kesopanan. Padahal aslinya tidak begitu. 

Sedari kecil ia sudah memendam, menahan, tanpa tahu cara bercerita dan harus memulai cerita dari mana, ia tak tahu. 

Suatu saat mungkin jika benar terjadi, pemuda itu akan PULANG ke kampung halamannya. Tempat di mana ia akan benar-benar tenang untuk selamanya. Mungkin kesalahan dirinya sendiri, mengapa ia memilih pendam? Mengapa tidak bercerita saja? Tutur orang yang tidak pernah merasakan ceritanya diadu nasib dengan cerita orang lain bahkan juga diadu nasib dengan yang mendengarkannya. 

Jika manusia memiliki masalahnya masing-masing, mengapa seolah manusia-manusia itu mengintimidasi permasalahan hidup orang lain dengan mencecar 'makanya begini, makanya begitu, dan sebagainya'

Nanti aku minta ada orang yang menabur bunga mawar dan melati bersamaan di atas rumah pemuda itu. Itu pun jika ada, jika tidak aku juga tidak apa-apa.

Dengan hati yang penuh maaf, pemuda itu akan selalu memaafkan siapapun. Dengan hati yang penuh kepasrahan, pemuda itu hanya bisa memendam, tentang apa-apa yang telah terjadi, yang ia rasakan, dan tentang motivasi hidupnya.

Surat ini spesial, dari pemuda tersebut yang aku tulis untuk mengabarkan kepada keluarganya dan orang-orang terdekatnya agar nanti mereka tidak terkejut jika pemuda itu sudah PULANG ke kampung halamannya.

Jambi, 17 Nov 2022
Continue reading Pesan Ke-18

Selasa, 15 November 2022

Pesan Ke-17

 "Taburkan lah bunga mawar selagi aku hidup, kelak melati belum tentu tumbuh saat aku sudah mati"



Nampaknya sudah terlambat, jika seseorang mencoba untuk memberiku semangat. Masalah nya bukan di luar seperti yang terlihat lagi, namun sudah terselubung di dalam ruang-ruang ingatan. Waktu pun tak ingin mengusut tuntas tentang sirat pendam di dalam benak ku.

Orang-orang juga berbicara tentang takdir. Sedangkan mereka tidak tahu isi takdir itu sendiri. Seperti bunuh diri contohnya. Banyak istilah seperti 'mendahului takdir' yang terus terucap dari mereka yang masih normal secara mental. Tapi apakah mereka pernah mengira bahwa seseorang yang bunuh diri, mungkin juga itu yang tertulis di takdir mereka. Bukankah kematian itu takdir? Siapa yang bisa mengetahui seseorang akan bunuh diri? Siapa yang mengetahui penyebab orang itu akan bunuh diri? Aku membela mereka, karena yang aku lihat mereka hanya daun kering yang telah lama gugur, lalu orang-orang menyiraminya air. Berharap daun yang telah lama gugur tersebut tumbuh menjadi pohon. Padahal tidak demikian konsepnya.

Mereka melihatnya sederhana, sangat sederhana. Itu sebab nya mereka selalu menyayangkan orang-orang yang mati bunuh diri. Bagi mereka itu adalah hal yang konyol dan bodoh. Tapi apakah mereka merasakan apa yang orang mati bunuh diri itu rasakan? 

Mawar,
Bunga yang sangat aku sukai sejak Desember 2021. Sebelumnya aku juga menyukai setangkai bunga lain, bunga itu adalah bunga melati. Sekarang aku memiliki dua bunga yang aku sukai, bunga mawar dan bunga melati. Namun tampaknya, bunga mawar lebih menghidupkan alam sunyi ku. 

Bunga melati,
Nanti giliran mu yang harus tumbuh saat aku mati. Tebarkan aroma mu yang semerbak itu pada setiap sembilu di hati orang-orang yang suka memendam. Kendati demikian, aku sudah pernah berusaha keras menghidupkan mental ku kembali. Tapi ada suara-suara manusia yang mengusiknya. Mereka tidak tahu betapa berisiknya kepala ini. Tapi ya sudah lah. 

Nanti aku hanya akan berpesan, mawar ku tidak boleh ada yang menyentuhnya. Melati ku harus menggantikan mawar itu saat aku mati. Ingat! Hanya ada setangkai bunga mawar dan melati. Di antara mereka, bunga mawar yang hidup selama aku hidup harus ikut mati jika aku mati. Bunga melati yang sedari dahulu mati saat aku hidup, ia harus tumbuh saat aku telah tiada untuk selamanya.

Penuh sirat kata yang aku cantumkan dalam surat kali ini, penuh filosofis yang jika dikupas kalian akan menemukan penyebab aku mati, suatu hari nanti ^_^
Continue reading Pesan Ke-17

Senin, 14 November 2022

Pesan Ke-16

 Dear Jodoh | 14 November 2022



Dahulu aku sangat mahir dalam mengelola perasaan, menjalani sebuah hubungan dan menjaganya. 

Teruntuk jodohku. 
Aku pernah berdoa keras agar segera dipertemukan dengan mu. Bahkan aku selalu berpuisi, agar kicau ku terdengar merdu dari kejauhan dan aku berharap kau mendengarnya. 

Sekarang, setelah waktu-waktu yang terus berlalu dengan penuh kekosongan. Harapan ku tentang jodoh musnah sebagaimana harapan ku terhadap cita-citaku. 

Teruntuk jodohku.
Maaf jika nanti aku tidak seperti manusia-manusia lain. Aku pun demikian akan selalu memaafkan mu. Perlu untuk dirimu ketahui, aku adalah seorang yang aneh. Memilih tempat-tempat gelap sebagai rumah ternyaman ku. Begitu pun kebiasaan ku, aku memiliki kebiasaan yang aneh, yakni kebebasan yang selalu aku lakukan sesuai apa yang ada dipikiran ku.

Tapi lagi-lagi aku harus mengucap maaf, jika aku tidak kau temukan. Mungkin saja aku akan kembali pada-Nya lebih dahulu dari yang ditakdirkan. Bisa jadi, itu juga karena takdir Tuhan yang membuat jalan ceritanya demikian.

Teruntuk jodohku.
Aku akan selalu mendoakan mu di mana pun kamu berada. Aku akan sangat bersyukur jika nanti kamu menerima aku dengan segala keanehan ku. Ada banyak keanehan yang nanti kau lihat hanya dengan cara berjalan beriringan dengan langkah kaki ku.

Tuhan mungkin belum mengizinkan kita bertemu sekarang. Namun seandainya kita sudah kenal sebelumnya sebagai seorang teman atau sahabat. Aku akan membukakan semua topengku pada mu. Agar kelak kau tidak menyesal menerima ku saat aku memilih mu. 

Untuk jodohku.
Jika kau memiliki kekurangan, apapun itu. Jangan sungkan untuk kau paparkan. Karena sejatinya aku, jauh lebih tidak sempurna. Tujuannya hanya satu, yakni 'KITA SALING MENUTUPI KEKURANGAN'. Entah dengan cara saling menghibur, berbagi cerita, saling mengerti, hingga saling memaafkan.

Mungkin mimpiku tentang jodoh sudah redup. Aku harap nanti kau datang menyalakan ruangan gelap di hatiku. Tinggal lah di sana! Semoga kau nyaman dengan suasana sunyi nya. Aku akan menjaga mu, jika sempat bertemu. 

Semoga kau selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Mencintai. 



Jambi, 14 November 2022
-Zulpasmi-

Continue reading Pesan Ke-16

Minggu, 13 November 2022

Pesan Ke-15

 "Ketika manusia lupa bahwa Cinta hanyalah iming-iming di mata pendusta. Mereka hanya ingin sesuatu yang menguntungkan, bukan yang membutuhkan"




Di antara manusia-manusia itu, ada yang menamakan rumah sebagai tempat tinggal untuk berlindung dari cuaca. "Cuaca apa?" Tanyaku kebingungan. Bukankah hujan bukan hanya tentang jatuhnya air dari langit ke bumi? Tapi juga ada hujan yang jatuh dari mata dan melewati pipi.

Di antara manusia-manusia itu, ada pula yang menamakan rumah sebagai tempat pulang, tempat peristirahatan ternyaman dan teraman setelah seharian beraktivitas. Lantas, apakah yang disebut pulang hanya tentang rumah? Bukankah suatu hari kau, aku, dan kita semua akan pulang namun tidak ke rumah melainkan kembali pada Tuhan.

Jika banyak suara di jalan-jalan yang kau lalui, lalu membuatmu pusing karena berisik. Lantas apa gunanya sunyi malam yang kesepian. Bukankah sunyi adalah hati yang kosong meski kepala dipenuhi benang kusut, tinta yang tumpah, dan awan gelap? Bisakah manusia-manusia itu merasakan?

Atau manusia-manusia itu sudah berkamuflase menjadi makhluk yang menyeramkan? Entahlah aku tidak tahu lagi. 

Sesak! Iya sangat sesak. Aku tidak tahu apa yang mengusikku setiap hari. Mereka bergemuruh dan sangat berisik. Hingga aku mencari suasana yang lebih berisik dari berisiknya kepalaku. Nyatanya tak ada yang lebih berisik dari isi kepalaku.

Apakah harus ada obat penenang? Atau aku harus memilih tenang untuk selamanya? Entahlah aku tidak tahu lagi.

Saat disuruh pulang, dada ku langsung sesak, jantungku seketika berdegup kencang dan kecemasan menjajah isi kepala. Entah itu karena pulang ada kaitannya dengan rumah atau dengan isi rumah tersebut.

Mungkin suatu saat seisi rumah itu akan bertanya-tanya kemana anak itu pergi? Seisi rumah itu tidak akan tahu bahwa anak itu bukan pergi, namun ia telah mati. 

Raganya hanya akan menjadi simbolis bagi harapan-harapan yang mereka gantung tinggi setinggi khayalan anak itu tentang cita-citanya. Ia hanya akan merasa gagal untuk menjadi apapun dan siapapun.

Untuk sekian kalinya aksara itu mengipaskan tangannya untuk melerai nebula agar impiannya terasa nyata dan tak membuatnya kecewa. Hingga nanti, saat ia pulang untuk selamanya dan benar-benar tak lagi kembali.



Continue reading Pesan Ke-15

Senin, 07 November 2022

Pesan Ke-14

 "Aku ingin berpuisi, tapi tak tahu untuk siapa? Aku hanya ingin menyuarakan sunyi yang ada di hati dan berisik yang menggema di dalam kepalaku"





Aku ingin berpuisi. Tapi tak tahu diksi mana yang harus ku pilih dari sekian banyaknya serpihan luka di hati. Mereka menyerbuku untuk menusuk-nusuk alam pikiran. Tak tahu mana yang menunjukkan kepedihan mendalam antara luka yang tak berdarah atau linang air mata yang berkaca-kaca.

Aku ingin berpuisi. Sebagaimana sunyi bernyanyi di kepalaku. Dengan beberapa bait lirik yang mengisahkan seorang pria pendiam lagi menyendiri. Pria itu tumbuh sebagai keinginan orang tuanya. Jika tidak ikut 'durhaka' katanya. 

Aku ingin berpuisi. Di tiap-tiap jalan yang menyembah kenangan. Mereka selalu menabur mawar tanda duka atas hilang arahnya seorang pria. 

Di manakah seorang pria yang pernah meninggalkan topi merah putihnya saat SD itu? Masih hidup? Atau hanya terlihat hidup?

Aku ingin menyembah malam. Dengan segala gelapnya yang mencekam. Bahkan butuh beberapa lilin untuk menerangi jalan, sialnya seorang perempuan menghembusnya dengan kejam. 

Aku ingin menghamba pada sunyi, nyatanya ia telah diusik oleh orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah rumah dan merekalah tempat pulang.

Apakah rumah itu benar-benar layak untuk dihubungkan dengan kata 'pulang'. Atau sejatinya rumah itu hanya penjara di dunia yang penuh kisah-kisah kejam?

Aku tidak tahu sejauh mana depresi ini menjajah otakku. Berpuluh tahun merawat luka. Hingga pendam yang mulanya ingin dendam. Sekarang pendam itu menjadi peredam, bagi harapan yang hilang dari mata seorang pria. 

Tentang cita-cita yang tak lagi hidup, tentang tujuan hidup yang ditelan waktu dan tentang malam-malam yang menyimpan rahasia pria malang itu. 
Continue reading Pesan Ke-14

Minggu, 28 Agustus 2022

Pesan Ke-13


Banyak yang berbicara tentang cinta namun masih ada benci dan dendam di hatinya. Banyak yang memotivasi tapi masih ada penghinaan darinya. Banyak yang hadir namun hanya sebagai pengantar bukan pendamping. Apakah ini kemauan mu ya Tuhan?

Kita adalah awan yang bergerak ditiup angin. Aku tidak memiliki pesan apapun sampai awan itu lenyap sebagai hujan dan hadir membawa kehidupan di bumi. 

Aku tidak pernah membayangkan seperti apa hidupku di masa depan. Aku juga tidak pernah menduga bagaimana nantinya aku akan bangkit kembali. 

Terkadang kita memiliki sesuatu untuk diceritakan namun tidak ada telinga untuk mendengarkan, yang ada mulutnya yang akan menggubris setiap celah cerita itu. 

Lelah sebenarnya. Iya sangat lelah. Dua kali percobaan bunuh diriku gagal. Entah dengan hari esok. Rifa'i Rif'an dahulu pernah memotovasi seperti ini:

"Hidup sekali, berarti, lalu mati"

Tapi jika tidak berarti bagaimana? Berarti atau tidak yang pergi meninggalkan akan tetap meninggalkan. Baik yang menyenangkan atau yang menjengkelkan semuanya pasti akan berlalu. Namun jika dikenang pasti berdampak juga untuk kehidupan di masa sekarang.

Kita melewati bebeeapa momen indah dalam hidup kita. Ada keindahan yang bertahan hingga sekarang, ada pula yang telah lenyap dan usang.

Pesanku untuk siapapun yang merasa:

"Mungkin kamu mengenalku, tapi tidak dengan ceritaku. Mungkin kamu melihatku dengan telinga, tapi tidak dengan mata. Setiap orang memiliki kecewaan dan kebahagiaannya masing-masing. Kau boleh jadi melihat luarnya penuh dengan bahagia, namun tidak di dalamnya. Begitupun sebaliknya. Jika ada orang bercerita pada mu dengarkan sajalah jangan komentari dalam waktu dekat. Kau boleh memotivasinya tapi jangan mengomentarinya. Karena memotivasi dan mengomentari itu sangat jauh beda. Dan kamu........."

Ya udahlah ga lanjut lagi nulisnya entah gimana karirku jangan ditanya lagi

Continue reading Pesan Ke-13

Minggu, 14 Agustus 2022

Pesan Ke-12


"Pemandangan yang indah di sore hari dan aku tidak lagi melihat wajahnya yang berseri"

Iya. Mereka-mereka benar. Aku harus melangkah demi terus hidup. Terkadang kita memilih apa yang kita suka. Tapi itu membuat hidup kita terus terluka. Terkadang pula kita membenci hal baru yang tak sama dengan masalalu. Padahal itu adalah obat bagiku. 

Sekarang aku baru sadar dan sangat berterimakasih atas orang yang telah membuat aku sadar. Mengapa? Banyak orang yang tersakiti hanya karena aku menceritakan masa lalu dan menganggap tidak penting orang baru. Banyak di antara mereka yang tidak sekedar suka tapi lebih dari itu, mereka juga memiliki rasa. Apapun itu, sungguh aku minta maaf.

Aku melupakan bahwa hidup ini layaknya layang-layang. Kita terbang dan ditiup oleh angin. Hanya dua kemungkinan, kalau tidak putus maka layangan itu akan ditarik kembali. Sama hal nya dengan hidup. Kita diterbangkan oleh angan-angan lalu diputuskan oleh harapan atau diberi keberuntungan dengan terwujudnya suatu harapan.

Manusia memang makhluk aneh. Memiliki akal pikiran yang bisa menundukkan penduduk bumi lainnya. Tidak ada yang lebih tinggi dari manusia. Tapi manusia bisa dilemahkan oleh waktu, nafsu, dan kematian yang semua itu dipegang kendali oleh Tuhan Yang Maha Menciptakan. 

Jujur ini adalah pengalaman pertama ku setelah lama aku tidak memikirkan diriku sendiri. Tentang dua orang yang berani angkat bicara tentang diriku. Kalau tidak begitu, entah bagaimana lagi pikiran ku. Mereka adalah T dan S. Salah satunya aku suka. Cara dia berperilaku dengan spontanitas adalah tipe orang yang aku suka. Karena aku tidak suka orang yang lurus-lurus saja dan meng-iya iyakan saja. Berkat mereka aku mengerti apa yang harus aku lakukan. Terimakasih dua orang hebat. 

Masalah pertama hampir ditemukan jawabannya. Masih ada empat masalah lainnya yang belum diketahui siapa pun. 

Satu lagi, ketika pulang dari nongkrong malam itu. Aku menyingkronkan kalimat yang kalian buat pada malam itu:

"Tidak ada yang mau dengan orang yang belum selesai dengan masalalunya"

Kalimat yang paling Top bagiku. Aku sinkron kan dengan salah satu arti lirik lagu Bollywood:

"Apakah kita sejua ada dalam sebuah kisah? Atau mungkin ada kisah dalam setiap diri kita?"

Terimakasih sekali lagi. Aku akan terbuka untuk orang baru. Akan mencoba sebisa mungkin. Siapa pun itu. Mungkin tantangan sendiri bagiku karena sekarang aku tidak suka terang-terangan. Jadi, ga apa-apalah ya lewat gelap. Hehe.

Thanks 'T' and 'S'
Continue reading Pesan Ke-12

Kamis, 11 Agustus 2022

Pesan ke-11

Negeriku ini kenapa sih, banyak yang ahli agama namun yang dipercaya hanya bergamis doang.

Negeriku ini kenapa sih, banyak ahli-ahli hukum yang paham hukum, namun tak sedikit dari orang yang sok paham hukum menghakimi orang lain.

Negeriku ini kenapa sih, banyak animasi-animasi yang mengisyaratkan persatuan namun tak sedikit dari tayangan tentang pertikaian.

Negeriku ini kenapa sih, banyak orang yang berpendidikan namun tak sedikit berakhir untuk kepentingan sendiri dan menutup telinga bagi yang membutuhkan.

Negeriku ini kenapa sih, dikatakan demokrasi tapi banyak yang dibungkam, dikatakan komunis tapi banyak yang sok agamis, dikatakan bukan kapitalis tapi banyak pengusaha yang membunuh secara tidak langsung dan tragis.

Negeriku ini kenapa sih, karya-karya anak bangsa kaya raya namun ditutup dengan mereka yang berlembaga dan menghapus citra rasa.

Negeriku ini kenapa sih, semakin maju teknologi namun tidak sedikit menyalahgunakannya.

"Aku tidak tahu, hanya tuhan yang maha tahu"

Lalu apa gunanya tuhan menyuruh kita berpikir?
Continue reading Pesan ke-11

Sabtu, 06 Agustus 2022

Pesan Ke-10


Kamu tidak menyangka? Setelah beberapa kali aku tidak ingin lepas dan terus mempertahankanmu, masih kau bilang tidak menyangka?

Jujur, setelah kejadian itu aku tahu betapa rumit nya perempuan. Ada kata-kata lagi dari Sujiwo Tejo:

"Jangan lari agar dikejar, jangan sengaja hilang agar dicari. Berjuang tak sebercanda itu kekasih"

Kau tidak sadar diri mu sepenting itu bagiku? Lalu setelah kau ingin pisah sekali pun aku tetap saja dengan pendirianku dengan menganggap mu sebagai orang yang selalu bersamaku. Tapi apa? Salah? Ya, aku mengaku salah. Kau bilang "aku tidak peduli padamu". Aku membenarkan itu. Kau bilang juga "sudah diberi kesempatan tapi tetap tidak berubah". Apa yang harus aku ubah? Kau hanya bisa marah, marah, dan marah.

Kontrol emosi mu! Itu yang selalu aku ingatkan kepadamu. Aku jadi ingat sebuah pepatah.

Jangan mengambil keputusan saat sedang marah dan jangan berjanji ketika sedang bahagia

Timbul kebingungan dalam diriku karena apa yang kau suruh ubah aku ubah. Kau suruh aku berubah menjadi A aku menjadi A. Kau suruh aku berubah menjadi B aku menjadi B. Tapi kenyataannya bagaimana? Kau suruh aku berubah menjadi A, lalu aku berubah menjadi A kemudian kau malah menginginkan yang B. Aku di sini kebingungan mengikuti semua apa yang kau mau. Aku bukannya enggan untuk nurut kepada mu. Aku terus berusaha menjadi apa yang kau mau. Tapi kemauan mu tidak terbatas. 

"Seharusnya kesabaran itu seperti keinginan. Yang tidak ada batasnya" (Sujiwo Tejo)

Tapi sabar memang kalau dihadapkan dengan logika, pasti ada batasnya. Berbeda sabar yang berasal dari hati. Tiada batas bagi sabar yang murni dari nurani manusia. 

Setelah diri mu memutuskan pergi, kau tau apa yang terjadi? Ketakutan ku yang hanya 1% sekarang sudah 0%. Aku tidak takut apapun selain Tuhan sekarang ini. Aku tidak takut disakiti. Aku tidak takut untuk tidak dianggap. Aku tidak takut jika tidak diperhatikan. Aku tidak peduli semua yang ada di sekitarku. Aku penyendiri dan sekarang bukan hanya penyendiri. Melainkan anti sosial yang luar biasa. Mengapa bisa terjadi? Aku memahaminya hanya satu. Perjuangan ku dalam membanggakan setiap orang selalu gagal. Baik itu untuk mu, keluarga ku, teman-teman ku, dan semua yang memiliki kontak langsung maupun tidak langsung dengan ku, aku adalah orang yang gagal membanggakan kalian. 

Aku pesimis? Ini bukan hal pesimis atau optimis. Kau pernah mengikuti lomba panjat pinang? Tidak kan? Bagi dia yang berhasil sampai memanjat inang tersebut dia akan gembira dan bahagia. Tapi bagi dia yang tidak sampai memanjat pinang tersebut, dia hanya bisa menopang teman-temannya untuk sampai ke puncak dan menjadi pemenang. Itulah aku sekarang.

Aku sudah tidak peduli tanggapan orang aku dengan si A lah, aku dengan si B lah, bagi ku semua sama saja. Rasanya mustahil ada orang yang memilih hati seorang yang tidak romantis seperti aku ini, seorangbyang tidak pekaan, seorang yang selalu membuat kesalahan pada pasangannya. Wajar kau meninggalkan aku. Aku memang salah karena melihat orang atau laki-laki lain begitu gencar untuk mendapat kan mu. Sedangkan aku? Tidak ada yang tidak pasti bagiku selain kematianku sendiri. 

Lihat saja nanti. Ya, lihat saja nanti. Kau mungkin melihat aku memiliki pasangan atau entah apalah itu. Tapi kau tidak akan melihat Cinta yang bisa dirasakan oleh orang selain engkau. 

"Banyak orang pacaran, seabrek orang menikah. Namun hanya segelintir orang yang merasakan cinta"

Sebagai manusia yang mendahului logika, kau mana mungkin sampai paham bagaimana Adam dan Hawa dipertemukan, Romeo dan Juliet, Layla dan Qais, bahkan cintanya Rasulullah kepada istri-istrinya. Cintanya Rabiah Adawiyah. Cintanya Buya Hamka. Cintanya Jalaludin Rumi. Cintanya Ibnu Arobi. Cintanya Habibi kepada Ainun. Mereka menebar puisi dan kata-kata mutiara. Manusia banyak menikmati dan menggunakan kata-kata dan puisi mereka. Namun jika kau faham kalimat ini, aku pastikan kau baru tersadar tentang Mahabbah:

"Aku pecahkan botolku. Lalu Tuhan mengisi gelasku dengan anggur merah"

Kalimatku akan sangat sulit dimengerti kali ini. Karena ini tentang perempuan. Kalian tahu sendiri kan? Untuk memahami perempuan kau bisa-bisa menjadi seorang filsuf. Karena perempuan semisteri tasawuf dan serumit filsafat. 

Terserah engkau mau beranggapan seperti apa. Terserah kalian semua mau menilai seperti apa. Innalilahi ya'lamu maa fish shuduur.

Jambi | 6 Agustus 2022
Oleh: Zulpasmi
Continue reading Pesan Ke-10

Kamis, 04 Agustus 2022

Pesan Ke-9


Hari ini kamu benar-benar telah membuktikan yang dikatakan Sujiwo Tejo itu benar:

"Berapa banyak lagi rasa sakit yang harus ku alami?" Kekasih dalam Cinta pertanyaan itu tidak diperlukan.

Benar sekali. Cinta hanya tentang kebahagiaan, bukan mempermasalahkan penderitaan. Apalagi berlarut di dalamnya. Cinta bukan masalah cara dia memperlakukanmu. Bukan soal Hal atau tidak. Cinta tetaplah cinta, jangan mengatasnamakan peduli atau tidak. Majnun pun tak pernah dipedulikan keluarga layla tapi dia tidak berpikir itu. Nu'aiman pun sering bermaksiat di depan Rasulullah, tapi Rosul tidak melihat itu Mereka hanya melihat seberapa besar cintanya tanpa dibuktikan. Karena cinta itu bukan produk hukum, bukan juga korban dalam suatu peristiwa yang harus dijelaskan kebenarannya. Cinta hanya bisa dirasakan, bukan menurut logika tapi hati nurani.

Benarkah keputusan mu? Aku rasa kau telah mendahulukan logika mu bukan hati mu. Aku tahu hati mu butuh tempat bersandar tapi logika mu mengatakan "Dia saja tidak peduli". Aku tahu hati pendampingan tapi logikamu berbisik "lupakan saja dia, dia saja tak memberi pada mu". Aku tahu sebenarnya Cinta masih ada di dalam hati mu tapi logika mu menghasut "ikhlaskan saja dia, pasti ada yang lebih baik dari dia. Coba saja dengan pria lain!"

Lagi-lagi punggung pagi ku tuliskan tentang perjalanan ku untuk mu. Meski diam-diam, dengan tuduhan-tuduhan mu dan orang-orang. Tapi Tuhan Maha Tahu apa yang ada di hati manusia. apakah engkau Tuhan? Manusia memiliki hati dan pikiran. Lupakan semua yang mencintai hal yang kamu cintai.

"Lelaki yang ku bawa dalam diriku sendiri, adalah yang berkali-kali kalah dan berkali-kali bangkit. Tidakkah membangkitkan gairahmu, kekasih?" 
-Sujiwo Tejo

Perjuangan tetap aku lanjutkan. Walau entah apa hasilnya nanti. 

Meski kau mendekat
Namu jarak masih belum berkurang
Kisah kita masih belum lengkap
Tidak perlu jika langit dan bumi bertemu
Cinta sejati adalah yang tak sampai pada tujuan

Ada warna dan cahaya saat kau di sisiku
Dunia ini sudah tampak seperti surga
Pasir waktu, sesuatu tampak seperti namaku
Kau menulisnya lalu meninggalkanku

Jika ini surga...
Kenapa aku tak melihat mu?
Rembulan dan mentari, semuanya di sini

Aku sudah lama menunggu mu
Berabad-abad lamanya
Dahaga ini sudah terduduk
Sejak lama...

Kisah kita belumlah lengkap :)

Zulpasmi | Pesan Ke-9
Jambi, 4 Agustus 2022
Continue reading Pesan Ke-9

Jumat, 29 Juli 2022

Rabu, 27 Juli 2022

Pesan Ke-7

Setiap orang pernah memulai sesuatu yang telah ia pilih. Terkadang ia terjatuh di tengah jalan, terkadang ia bangkit, terkadang ia terjatuh lagi, lalu bangkit lagi. Jatuh bangun bagai sebuah lagu dangdut. Tapi tidak dalam mengejar seseorang yang menyia-nyiakan mu. Tidak juga untuk seseorang yang telah berkhianat pada mu. Ketahuilah, cinta sejati akan tetap bersama selamanya. Sedangkan cinta yang palsu ia hanya akan menebar debu di atas bumi. Sudah lah aku bosan berceritang apa dan siapa. Kali ini akan aku ceritakan bagaimana bisa aku sekarang terbentuk. Pesan kali ini sedikit rumit, bahkan kalian yang membaca pun juga akan sukit untuk memahaminya. 

Kita mulai dari beberapa tahun yang lalu. Saat hati hanya diisi oleh seorang santriwati yang ternyata pembohong besar dan suka memfitnah. Layaknya seorang psikopat yang manipulatif. Setelah aku belajar tentang dunia psikopat aku jadi paham apa yang telah dia lakukan dulu kepada ku. Dia berasal dari salah satu kabupaten di kota ku. Sebut saja Sarolangun. Tahukah kalian, tanpa melakukan apapun aku dianggap mengkhianati dirinya. Waw. Aku yang polos terima-terima saja perlakuannya. Seolah akulah yang berkhianat. Padahal dialah orang yang sangat laknat. Sekarang dia sedang merasakan akibatnya. Antara sedang atau sedih. Namun aku bahagia saja melihat dia yang tak sadar telah membuat malu keluarganya sendiri. 

Lanjut, kita pergi ke kota Surabaya. Di mana ada gadis yang katanya solehah keluarga dari pengurus Pondok Pesantren "L" . Setiap malam dia menelpon, bahkan berniat ingin menemui ku. Na'as nya, lagi-lagi wanita yang katanya solehah ini ternyata tidak ada bedanya wanita sebelumnya. Bahkan lebih bejat dari yang aku kira. Dia mengaku pergi ke Palembang tempat nenek nya berada dan di sana katanya ia dijodohkan. Semalam sebelum menikah dia menelpon ku dan terdengarlah isak tangis nya. Seolah benar-benar sedih, ternyata air mata kadal saja. Dia hilang kabar yang kemudian ada seseorang mengaku bernama Felin chat diriku dengan isi pesan yang mengabarkan bahwa dirimu koma beberapa hari dengan menyebut-nyebut nama ku. Aku tak habis pikir, rekayasa seperti itu dari mana dia dapatkan. Cocok jadi pengarang film-film di Indosiar. Setelah beberapa tahun lamanya, dia menghubungi ku dengan polosnya dia bertanya siapa namanya. Padahal dialah peletak batu dendam di dasar lautan hati ku. Sampai aku pernah berkata kepada seseorang "aku akan membunuh nya jika aku tahu siapa dia sebenarnya". Iya, perkataan ini tidak bisa dibantah. Atas nama Tuhan dia bersumpah, atas nama Agam pula dia berjanji. Inilah hinaan terhadap Tuhan yang sebenarnya. Aku lihat postingan-postingannya tentang agama. Aku berpesan kepada mu. Jika kamu menyadari ini, bertaubatlah! jangan menipu manusia dan Tuhannya. Kau wanita pertama yang akan aku tandai jika tahu identitas aslimu. 

Lupakan wanita bejat itu. Kita lanjut ke wanita selanjutnya. Bercadar, ingin hijrah, dan bergaya ingin belajar agama. Aku hargai itu. Namun aku tidak mentoleran lagi kalimat-kalimat manis dari mu. Sudah lah wanita ini pasti sudah dikenal dengan teman-teman dekat ku, khususnya di kampusku. Dia juga yang menbuat saya, tidak menyukai wanita bercadar. Walaupun tidak semua wanita bercadar sama dengannya. Dia harus kalian tuntut jika kalian ingin mengubah pandangan ku ini. 

Begitu dahsyatnya, silih berganti hadir kembali wanita yang menjadi wanita yang paling aku benci. Dia dari kampung ku sendiri. Tidak besar kesalahannya. Namun hanya satu. Mengambil foto dengan ku saat berada di dalam masjid dan sebuah acara sedang berlangsung. Perlu aku ingatkan, aku tidak suka itu. Aku tidak ingin munafik dengan atas nama Agama dan Tuhan. Baik ya baik, buruk ya buruk. Cam kanlah itu jika kau membaca pesan ini. 

Terakhir, penutup. Wanita yang ada ku jadikan sebuah buku "Kelinci Putih". Tidak perlu dijelaskan kejamnya dia. Teman satu kontrakan ku dulu dan Tuhan lah yang tahu. Tentang Janji, Sumpah, dan Buaian nya. Tidak ada gunanya sekarang. Aku telah kurni berbuat untuk Tuhan bukan untuk nya lagi. 

"Apa itu janji? Apakah semacam dongen yang dipuitisasi?"

Banyak orang berlomba-lomba mengejar cinta sejatinya. Pada akhirnya mereka tetap akan sampai pada Yang Maha Cinta. Entah itu dengan mulia atau dengan Hina. Semua kalian lah yang menentukan. 

Aku bertemu dengan orang yang telah menghapus dendam, dengki, dan amarah itu. Membuat percaya bahwa perempuan itu lembut bagai sutra, semisteri filsafat, dan sedalam tasawuf. Tak perlu jauh-jauh jika kalian masih bersama ibu kalian, lihatlah dia. Jika kalian masih bersama kekasih kalian, lihatlah dia. Jika kalian memiliki kakak perempuan, lihatlah dia. Mereka itu adalah wanita-wanita yang bisa menghapuskan semua sifat negatif ini. Dengan syarat, tertanamnya cinta Ilahiyyah di hati mu kepada mereka. 

Sungguh pun demikian rumitnya kisah hidup ku maupun kisah hidup kalian. Percayalah Tuhan sutradara terbaik dengan kisa hidup yang baik pula. Sungguh pun sakit hati yang aku maupun kalian alami. Yakinlah bahwa Tuhan sedang merangkul jiwa mu sambil berteriak "Labbaikallahuma labbaik".

"Tuhan itu maha asyik. Terkadang untuk menyelamatkan mu dari orang yang salah, ia mematahkan hati mu"

Mengertilah bahasa Tuhan melalui sakitnya jiwa dan ragamu. Pelajarilah nikmat Tuhan melaui kekasih mu yang dahulu dan yang akan bersama mu kelak. Beribadahlah dengan penuh kesadaran dan cinta. Tanpa cinta semua akan tertolak dan sia-sia. 

Kalian akan memahami satu hal tentang pesan-pesan ku setiap malam. Kalian akan tahu sedikit demi sedikit tentang dirimu dan aku. Semua berum berakhir, naskah Tuhan masih tertulis panjang entah panjangnya sampai nanti, besok, atau beberapa hari lagi. Jadi kalian tidak akan bisa membuat kesimpilan dari sekian tahun nya kamu hidup. Semoga kita bertemu lagi pada pesan selanjutnya. 

Wallahua'lam
Continue reading Pesan Ke-7

Senin, 25 Juli 2022

Pesan Ke-6


"Sungguh? Kau adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di hati ku. Maka negeri Cinta tak pantas dijajah oleh pendusta"

Seperti awal mengenal mu aku sudah begitu sangat yakin terhadap dirimu. Sampai-sampai keyakinan itu mengantarkan ku pada punca kangen paling dahsyat seperti yang dikatakan oleh Sujiwo Tejo:

"Puncak kangen paling dahsyat itu ketika engkau tidak saling sms-an, chating-an, telponan. Tapi diam-diam saling mendoakan"

Aku rasa Tuhan membuat kisah ini agar bahagia nya nanti saat kita ceritakan pada penerus kita saat kita sudah tua. Tuhan benar-benar sutradara yang ceritanya selalu mengandung misteri namun hadiahnya indah berkali-kali. Tidak hanya bersyukur, bahkan aku ingin mencari istilah yang lebih dari bersyukur itu sendiri untuk mendengar kabar baik tetang mu. Semua benar-benar kehendak Tuhan. Janji Tuhan memang tidak pernah diingkari-Nya. Buktinya:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit jaringan, kekurangan, dan kekurangan harta, jiwa, buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Lelucon mu sangat penuh hikmah Ya Rabbi. Terkadang aku saja yang terburu-buru meminta padahal aku selalu berbuat dosa pada mu. Akan ku persembahkan puisi untuk mu malam ini:

Bagai rembulanku yang benderang
Dengan pantulan cahaya Ilahi Yang Maha Penyayang
Engkau hadir menjadi obat penenang
Bagi jiwa ku yang hampir gila ini

Malam ini awan bersedih haru
Mendengarkan kalimat rindu dari mu
Malam ini angin bertiup kencang
Menghela nafas untuk berkasih sayang

Tuhan tak pernah gagal dalam menulis naskah
Hanya aku saja yang selalu gagal berperan
Tuhan tidak pernah memutus Rahmat-Nya
Hanya aku saja yang tidak menghadap pada-Nya

Cinta telah datang dengan lilin
Di antara gelapnya gulita dia berbisik
Bagaimana rasanya rindu
Aku pun mengatakan
Rindu dikalikan jarak sama dengan aku

Oh kekasih ku
Kau seorang yang sempurna
Karena kau diciptakan Yang Maha Sempurna
Mustahil Tuhan gagal dalam menciptakan

Oh sayang ku
Adakah anggur yang lebih memabukkan
Melebihi anggur wajah mu yang mempesona
Akan kurajut wajah mu di antara bintang-bintang
Membentuk ruang untuk berkasih sayang

Kau kopi puncak malam mu
Saat ku sedu manis rasanya
Saat ku cium wangi aromanya
Dan asapnya membentuk wajah mu yang indah

Walau telah lama aku tidak menulis sebuah puisi. Tentu adanya dirimu telah ada pula objek puisi ku. Pena yang ada di jari ku akan menggores tinta tentan kata yang penuh cinta. Kertas putih yang kosong ini akan ku isi dengan belas kasih terbaik versi ku. Tidak apa-apa jika tidak dipahami. Tidak apa-apa jika tidak seindah mastnawi. Aku hanya berharap dengan mencinatimu, aku bisa berjumpa kembali dengan diriku. 

Ada banyak kertas kosong yang tersisah. Pilihannya adalah kau mengisi kertas itu dengan kisah mu atau menghabiskan waktu untuk membaca yang telah kau tulis hingga kematian tiba? Kesetiaan itu nyata dan itu dari Tuhan. Kebahagiaan itu benar adanya, jika kita tidak ingin menemukan apapun lagi selain Dia. Semua doa telah terijabah. Hati mu telah kembali mekar ceriah. Beberapa percobaan dirimu mendekati laki-laki telah gagal. Maka aku adalah pententang takdir dirimu dengan sebuah doa yang isinya hanya aku dan Tuhanku yang tahu.

Semoga sukses dan langgeng. 
Continue reading Pesan Ke-6

Minggu, 24 Juli 2022

Pesan Ke-5


"Kebahagiaan yang sebenarnya saat engkau melihat teman-teman mu sukses dan menemukan pakaiannya masing-masing"

2017 adalah tahun di mana aku dilepaskan dari penjara suci. Banyak kenangan di sana. Ada beberapa bagian yang tidak mungkin aku hapus. Karena memang begitulah adanya diriku. Sebagaimana yang pernah aku baca:

"Hidup adalah seni melukis tanpa menghapus"

Mereka adalah warna-warna ku di masalalu yang tidak mungkin untuk dihapus. Sebab akan buruk sebuah lukisan juga ada warna yang dihapus. Sama hal nya dengan 2017 akhir. Di mana setelah aku keluar dari penjara suci dengan teman yang kompak dan sejalan, aku kembali menemukan nya di kampus biru yang terkenal dengan organisasi biru kuningnya. Di sana aku mengenal banyak orang. Seperti kampus lainnya, ada kegiatan PBAK yang mengelompokkan mahasiswa baru. Aku berada di kelompok Sultan Iskandar Muda dengan beberapa teman ku yang entah mereka masih ingat aku atau tidak. Lalu ada Silmaru yang juga dibentuk beberapa kelompok hingga MAKRAB pun diadakan dengan berkelompok. Menang benar, fitrah manusia normalnya hidup berkelompok dan saling membutuhkan. 

Masa Keakraban (MAKRAB) adalah awal dari perkenalan kecil meunuju perkenalan yang lebih besar hingga sekarang perkenalan tersebut ku ingat sebagai perkenalan yang paling bersejarah. Mungkin karena aku yang friendly kesiapa saja, samapai-sampai tidak mementingkan buruk baiknya orang kepada ku. Aduh jangan sampai tulisan ini mengandung bawang. Karena ini baru permulaan aku menulis pesan untuk mereka. 

Apa kabar teman-teman ku? Baik-baikkah kalian? Aku mendengar banyak kabar yang menyenangkan dan menyedihkan dari kalian. Kabar menyenangkannya, sebagian dari kalian ada yang telah menikah, bekerja, dan hidup dengan bahagia. Sebagian dari kalian lagi, masih terus berjuang kuliah dan ada juga yang ditinggal oleh orang tua tercinta. Semua kabar aku dengar. Aku hanya ingin menyampaikan kerinduanku yang mendalam kepada kalian melalui pesan ini. Karena aku sangat tahu kalian sibuk dengan urusan masing-masing maka dari itu aku hanya berbincang lewat pesan singkat ini. Entah kapan lagi bisa berkumpul bersama kalian semua. Meski tempat-tempat perkumpulan kita dulu telah aku kunjungi setiap hari, tetap saja tidak akan begitu berkesan karena semua kesan itu ada di kalian semua.

Hidup terus berjalan akan tetapi kenangan tetap tinggal. Seringkali aku duduk di tongkrongan kita dahulu, sendirian tanpa siapa pun. Ada pun itu syukur Alhamdulillah. Paling teman baru ku yang mereka kembali isi malam-malam ku di sini. Tapi saat aku duduk sendiri di sini, di antara keramaian ini aku hanya melihat kalian berdebat dan bercanda ria. Kalian seperti imaji yang nyata di hadapan ku. Entah kenangan itu terus tampil sebagai penampilan teater di hadapan ku dan hanya bisa disaksikan oleh aku saja.

Aku selalu berdoa di setiap kesempatan dan setiap peribadatan ku untuk kesehatan dan kesuksesan kalian. Kalau dahulu meluangkan waktu untuk berkumpul, sekarang kalau ada waktu luang dan kesempatan mampir silahkan mampir ya ke rumah kontrakan ku. Rumah dengan banyak kenangan bersama kalian. Di sana ada perayaan ulang tahun, masak-sak bersama, tempat peristirahatan dan perkumpulan kita disaat jam perkuliahan telah usai. Sayang rasanya untuk ditinggalkan rumah itu. Orang tua ku selalu bertanya kepadaku 'apakah enak rasanya tinggal sendirian di rumah itu?' dan kalian sudah pasti tau jawabannya dengan penjelasan tadi. Bagi mereka aku tinggal sendirian padahal aku tinggal bersama kenangan kita wahai teman-teman ku. Sampai aku tidak jadi tinggal dirumah paman ku sendiri pada saat pindahan dan memilih tetap tinggal dirumah itu. Karena kasihan kenangan itu mau aku kemanakan nantinya jika aku tidak ada di situ. Aku masih butuh waktu untuk pindah dari tempat tersebut. Sampai saatnya tiba, ada tempat baru untuk membawa kalian kerumah tersebut.

Sekian dulu ya, pesan untuk kalian malam ini. Saat kalian sukses, janganlah kalian lupa menolong orang lain. Kenal atau tidak kenal, tolonglah mereka yang kesusahan. Bukan! Bukan saat kalian suksws saja. Tapi saat kalian bisa bantu, bantulah! Semoga kalian sehat selalu, murah rezeki dan dimudahkan semua urusannya.

"Banyak yang mengukir kenangan pada saat senja, sedang aku melukiskannya di punggung malam."
Continue reading Pesan Ke-5

Sabtu, 23 Juli 2022

Pesan Ke-4


"Tidak apa-apa berbeda, sejatinya aku tetap dianggap tidak ada walaupun jelas di depan mata"

Tragisnya beberapa hari lalu ada orang yang berani mengajakku pergi ke sebuah danau. Anehnya lagi dia berkata kepadaku 'sesekali kek keluar, jangan ditongkrongan mulu'. Tanpa dia sadari dan ketahui kalau dulu aku rutin keluar bersama kamu.kamu tahu apa yang terjadi di sepanjang jalan? Seperti arwah gentayangan, aku melihat kita sedang duduk di Taman Anggrek sambil bercerita tentang hal-hal yang tidak jelas. Sesekali aku menggelitikkan mu sesekali juga kau menyapu daun jatuh yang ada dipundakku. 

Sekarang masalahnya sudah semakin rumit. Sejak kamu mengatakan 'asing' diantara kita dan mengatakan 'berbeda' antara aku yang sekarang dan aku yang dulu. Jujur saja aneh, di mana ada orang yang disikapi sama secara terus menerus sejak dahulu kalah hingga sekarang lalu ia merasakan perbedaan. Tidak, aku rasa bukan aku yang berbeda namun rasa mu kepada ku yang tidak lagi sama. Aku menyadari beberapa kali aku kuat memegang sebuah tali saat kapal hendak lepas dan berlayar. Itu membuat tanganku lebam dan berdarah. Sungguh pun kuatnya aku menarik dan menahan kapal yang ingin berlayar menuju pulau lain itu, aku akan tetap sulit untuk menahannya karena begitu kuatnya kapal tersebut. Aku pun melepaskan sebelah tanganku dan melihat keadaannya sangat parah hingga aku bertanya 

"Apakah aku bisa menggenggam kembali jika aku melepaskan kapal yang telah aku tahan erat ini? Atau akan ada seseorang yang akan mengobatinya?"

Entahlah aku juga tidak tahu karena aku bukan Tuhan. Aku hanya melakukan sesuai surat dari kerajaan di mana dalam hukum perikatan tidak boleh adanya Wanprestasi karena ada Undang-Undang yang mengatur hal tersebut. Tapi bagaimana lagi? Kamu tetap saja ingin lepas. Aku lihat kamu jika dengan laki-laki lain begitu asik. Tapi kenapa denganku tidak? Kata mu berbeda rasa, kalau begitu kenapa sekarang pada saat rasanya sudah beda kamu tetap saja tidak seasik pada saat kamu dengan mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dan membuatku terus insecure. Bahkan jika ada wanita lain yang ingin dekat dengan diriku tetap saja akan membuat diriku over thinking. Senaif itukah aku? 

Sebenarnya aku tahu permasalahannya dan kamu cuma harus mengikuti arahanku. Tapi lagi-lagi aku terbayang sebuah kata-kata yang pernah aku lontarkan

"Datang dan perginya seseorang tidak lepas dari tanda tanya di hatimu. Kau hanya belum menemukan jawaban. Bukan telah ditinggalkan"

Tapi setelah dipikirkan kata-kata tersebut membuatku bingung. Sebenarnya jawaban seperti apa yang aku inginkan. Rasa-rasanya semua tentang yang ku cintai itu ada di kamu. Apa aku yang salah subjek? Entahlah, seperti membuat sebuah hipotesis saja yang pada saat diprediksi hasilnya akan begini ternyata pada saat diteliti berbeda. Sekarang aku pasrah atas semua kehendak mu. Aku hanya berpesan dengan pesan yang sama. Jaga kesehatan mu, jaga pola makan mu, dan aku akan selalu berdoa untuk mu. Ingat juga yang aku terangkan pada mu, tentang orang yang akan bersama ku kelak. Itu rahasia mu jangan kau beri tahu orang yang bersama ku nanti. Dia akan ku ratu kan dan kau sudah pasti tahu apalasannya. 

Terimakasih atas pelajaran panjangnya dari mu kepada ku. Semoga kamu baik-baik saja. 

"Kau tau apa yang kau rasakan dan kau tau apa yang terjadi. Tapi yakinlah kalau tuhan tahu di balik apa yang kau rasakan dan yang terjadi"

Wallahua'lam
Continue reading Pesan Ke-4

Jumat, 22 Juli 2022

Pesan Ke-3


"Baru kali ini setan membisikkan kebaik dengan menyuruh manusia mencintai lawan jenisnya. Sayangnya godaan manusia melebihi setan"

Aku tidak pernah berpikir terhadap godaan-godaan setan yang menggiurkan tentang indahnya cinta. Bagaimana tidak, aku mengukuhkan keyakinanku bahwa segala yang berkaitan dengan cinta adalah kemurnian hati makhluk dari Yang Maha Cinta. Ini pendapatku, tidak tahu kalau pendapat kalian. 

Saat itu aku berpikir setelah keluar dari pondok pesantren untuk menghidupkan kembali organiasi keagamaan di kalangan remaja. Ternyata asik membangkitkan gairah para penerus yang suci tersebut untuk memperjuangkan regenerasi umat yang taat dan berkualitas. Tapi hanya berjalan beberapa tahun hingga tahun lalu yang disebabkan Covid-19 tidak berjalan dengan mulus kegiatan organiasi tersebut. Jujur pada saat itu ada seorang gadis yang tidak kenal dengan diriku padahal dia belajar dengan ayahku sewaktu SD nya. Sangat aneh rasanya, karena pada saat itu aku sedang tenar-tenarnya dibidang keagamaan. Seperti biasa, santri yang keluar dari pondok pesantren sangat disegani oleh penduduk lokal (desa). Tapi itu tidak berlangsung lama, karena aku harus menyatukan peradaban yang maju ini dengan pemikiran religius melalui filsafat yang aku fahami sendiri dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku. Salah satunya adalah 'mengapa gadis yang belajar dengan ayahku tidak sama sekali mengenali aku?' pertanyaan ini pernah dijawab olehnya 'karena dia tidak pernah melihat aku selama ini dikampung'. Apakah aku terlalu lama di pesantren? Rasanya tidak juga. Di luar sana jauh lebih lama mondok, tapi tetap saja dikenal oleh orang-orang.

Lupakan! Bagian kali ini tidak membahas seberapa penting aku dikenal oleh orang-orang, karena itu hanya akan membusukkan hatiku sendiri dengan riya' dan ujub. Jadi, pertama aku melihat gadis tersebut terasa unik. Apalagi dia mencuri-curi pandangan pada waktu itu. Layaknya dua insan lainnya yang apabila tertarik pada lawan jenisnya ia tidak akan menunjukkan ketertarikan nya itu namun dengan sembunyi-sembunyi ia memperhatikan. 

Setelah sekian lama dan dalam proses yang terbilang aneh juga. Karena pada saat yang bersamaan ada gadis lain juga dekat denganku. Aku tahu aku harus memilih salah satu diantaranya. Karena aku teringat kata-kata ku dulu:

"Hidup adalah pilihan dan apapun yang kau pilih itulah yang akan menjadi kehidupanmu"

Jadi aku memilih gadi yang aku kenal dengan tatapannya yang tidak berpindah dari wajahku ke wajah-wajah yang lain. Dan inilah awal kisah asing dua insan yang tersiksa sejak akhir tahun 2021. 

Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan pada mu malam ini. Karena seorang pecinta tak pernah lelah dalam kegiatan hijrahnya, maka dia tidak akan berhenti sebelum sampai pada tujuan yang sesungguhnya. Maka dengan itikad baik aku terus berubah menjadi yang terbaik versi Tuhanku. Karena percuma kekasih, untuk menjadi yang terbaik untukmu hanya membuat Dia marah padaku. Sehingga Dia memberikan rasa sakit padaku. Inilah yang juga sering dikatakan oleh Mbah Tejo:

"Tuhan itu maha asik. Terkadang untuk menyelamatkanmu dari orang yang salah, dia mematahkan hatimu"

Maka dari itu perlu aku ingatkan kembali bahwa doa-doa yang telah ku panjatkan ternyata memantul kembali ke bumi. Langit menolak doa ku yang terlarang itu dengan menurunkan hujan agar aku tidak sendirian diguyur dalam guyuran air mata. Tidak tahu apa yang sedang kamu rasakan, hingga kenyataannya sekarang aku adalah nebula yang berusaha menyusun tata letak aksara di atas setiap huruf dalam namamu. Kini aku diam, bukan berarti tidak aku tidak mempedulikan mu. Akan tetapi agar kau bisa bebas dari ku dari tuntutan-tuntutan yang selama ini membuat mu derita. Hanya itu yang aku inginkan dari mu.

Aku berpesan, jika seorang laki-laki lain datang kepada mu. Katakanlah padanya untuk tidak berkata-kata kotor yang terdengar dari telinga mu ataupun terlihat oleh mata mu. Karena aku tahu itu dan kau juga tahu, Tuhan juga Tahu. Jagalah lima waktu dan usahakanlah untuk bersedekah selalu. Aku akan selalu mengingat-ingat hal indah mulai dari awal pertemuan hingga kita asing seperti sekarang ini. Mulai dari kata-kata yang tak berarti menjadi berarti, hingga sekarang kata-kata yang terkirim hanyalah sebagai pemberitahhan saja.

Lihatlah! Betapa banyaknya orang-orang diluar sana dengan seenak hati mereka mengatakan bahwa cinta itu harus saling melengkapi satu sama lain dan perlu berkorban. Bagi Mbah Tejo tidak, dia mengatakan:

"Cinta tidak butuh pengorbanan, begitu kau merasa berkorban maka itu sudah bukan cinta tapi kalkulasi"

Aduh, aku ketiduran menuliskan surat ini untukmu. Seperti dalam lirik sebuah lagu Arjit Singh saja. Ya sudah. Semoga kamu paham maksud dari kata-kata ku ini yang ku tulis semalam walau selesainya pagi ini. Menandakan bahwa aku telah benar-benar menuliskan surat-surat malam ku di punggung pagi. Aku berharap bisa kembali berjumpa di surat selanjutnya dan aku juga berharap kau membacanya.
Continue reading Pesan Ke-3

Rabu, 20 Juli 2022

Pesan Ke-2


"Tertatih-tatih dalam berjalan. Merasakan letihnya ketidak pastian. Kali ini aku pasrahkan kepada Tuhan"

Satu kali setiap minggunya dahulu itu jika dihitung maka terasa sangat lama. Di mana keinginan hati untuk selalu bertemu setiap hari terus bergelora. Seperti awan yang dilelehkan oleh matahari, ingin segera sampai ke bumi. Hari-hari yang indah, jika hal demikian dijadikan pemandangan setiap malam, pagi, siang dan sorenya. Malam dengan bintang-bintang yang indah dan rembulan yang benderang. Pagi dengan kesejukan embunnya. Siang dengan pelukan hangat dari matahari. Hingga sore dengan senja yang memanjakan mata. Semua keindahan itu terlukis atas kebesaran Tuhan. Termasuk kamu, dengan mata indah dan posesifnya tidak ada tandingannya. Namun aku senang, sayangnya itu dulu jauh sebelum permasalahan siapa benar dan siapa salah menyerang.

Sebuah boneka kodok yang lucu menjadi pilihan utamaku diantara banyak boneka di mall pada malam itu. Aku sampai terlambat menjemputmu gara-gara mencarikan boneka kodok yang imut. Semua karena sang pecinta ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihnya. Namun, lagi-lagi itu dulu bukan sekarang. Bagiku sekarang aku banyak merasa terasing dari diriku sendiri karena dirimu mengatakan "tidak peduli dengan cinta-cintaan, sayang-sayangan, dan perasan terhadap lawan jenis". Masalanya bukan persoalan cinta-cintaan, sayang-sayangan atau perasan terhadap lawan jenis. Semua hanya persoalan rumit yang tersembunyi diantara aku dan kamu namun enggan untuk menampakkannya. Ini adalah permaslahan yang paling esensial dan paling serius menurutku. Ini juga membuat dirimu merasa terusik oleh diriku yang hanya melontarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya bagimu sudah tidak penting. 

Setelah dipikir-pikir dan dirasa-rasa bahwa aku menemukan pemikiran yang teramat sulit dari kalimat 'iya' yang kau lontarkan. Hanya satu kata namun jawaban tersebut membutuhkan pemikiran. Aku jadi teringat kata-kata seorang filsuf:

"Dua kata tertua adalah 'iya' dan 'tidak' dengan alasan untuk menyebutkannya kau membutuhkan suatu pemikiran"

Lupakanlah. Pembahasannya makin latur malam semakin rumit. Tidak kalah rumitnya dengan aku dan kamu memiliki jarak yang jauh. Tapi jangan salah, karena jauh lah aku selalu merasakan rindu. Apakah kau juga begitu atau memilih tetap acuh? 

Pertanyaan di atas tidak perlu dijawab karena itu hanya akan membuat dirimu marah. Sebab aku telah terlalu sering bertanya berkali-kali pada mu tentang kabar, kegiatan, dan tentunya semua tentang diriku. Sekarang aku sudah sadar bahwa kalimat dan kata apapun jika keluar dari orang yang dicintai pasti mau bagaimana pun akan disenangi. Sebaliknya jika kalimat tersebut keluar dari orang yang tidak disukai, mau bagaimana pun akan tetap mengundang emosi (kesal, kecewa, dan amarah).

Ku harap kita bertemu lagi di surat selanjutnya. Aku titip salam buat kamu, sehat selalu, apapun yang terjadi doa ku bersama mu. 

"Tiada yang patut disesali di masa lalu jika itu tentang rindu. Sesali lah diri mu karena tak ikhlas dalam menunggu"
Continue reading Pesan Ke-2