Minggu, 06 Oktober 2024

Pesan Ke-22

"Percayalah bahwa semua yang buruk datang karena dua hal, pertama karena kita pernah berbuat buruk sebelumnya dan kedua karena kita tidak pernah ikhlas melakukan kebaikan."


Di antara kalian ada nggak yang pernah merasa kecewa karena telah bertemu dengan orang yang sifatnya buruk dan membuatmu sakit hati? Kemungkinan itu adalah karma yang datang kepadamu. Kamu harus menerimanya. Karena mungkin rasa sakit yang kau terima sekarang ini sama hal yang dengan rasa sakit yang orang lain pernah terima dari perbuatanmu sendiri. Kemungkinan kedua kamu kecewa karena kamu tidak ikhlas berbuat baik. Ikhlas merupakan kunci untuk hidup bahagia. 

Ada kisah sebut saja namanya Insan Kamil seorang pria yang berperawakan religius. Dia selalu berbuat baik kapada kekasihnya. Tapi dia berharap dengan perbuatan baiknya tersebut dia tidak ditinggalkan oleh kekasihnya. Alhasil dia selalu merasa kecewa dan bersedih hati setiap kali ada ancaman untuk berpisah dengan sang kekasih. Insan Kamil tersebut tidak menyerah dan terus memperbaiki yang salah sehingga selalu meminta maaf tanpa memperdulikan siapa yang benar dan salah. 

Rasa sedih dan kecewa yang tergambar pada cerita diatas merupakan dampak dari ketidakikhlasan Insan Kamil dalam berbuat baik. Dia berbuat baik hanya untuk mempertahankan hubungan sehingga lupa apa esensi dari menjalani hubungan hingga membangun hubungan baik itu sebagaimana seharusnya.

Kisah kedua adalah kisah dimana karma tersebut benar-benar ada ialah Nyla seorang wanita yang dicintai hebat oleh seorang pria bernama Purnomo. Namun suatu ketika Nyla bermain hati di belakang Purnomo dan berselingkuh. Karena media sosial saat ini sangat canggih dan mudah diakses. Informasi selingkuh tersebut sampai terdengar di telinga Purnomo. Rasa sesak di dada karena sakit mendengar kekasinya selingkuh di belakangnya sungguh tidak terobati. Pertama kalinya Purnomo dipermainkan seprti itu hingga akhirnya ditinggalkan oleh Nyla yang lebih memilih Bima yang merupakan selingkuhannya, Selang beberapa bulan Nyla jatuh sakit dan dirawat inap di salah satu rumah sakit di kotanya. Selama Nyla sakit pacarnya Bima tidak pernah menjenguk dan akhir-akhir ini tidak memberi kabar kepada Nyla. Karena Nyla sakit Bima yang kerja mungkin merasa bosan tidak ada menemaninya jalan-jalan malam. Akhirnya Bima berkenalan dengan wanita lain nama Sinta. Tanpa sepengatahuan Bima kalau Sinta merupakan kawan sekolah Nyla dulunya. Sinta juga tidak tahu kalah Bima adalah pacar kekasihnya. Dirasa nyaman akhirnya Bima berbicara kepada Nyla dan mengungkapkan rasa ingin berpisahnya dengan Nyla. Nyla yang baru siuman pun merasa sedih kenapa itu bisa terjadi. Nyla merasakan sesak di dada karena sakit mendengar pernyataan yang diungkapkan Bima. Selang beberapa hari Sinta mengetahui kalau Bima dan Nyla ternyata memiliki hubungan. Karena merasa bersalah Sinta mengaku telah melakukan pendekatan dengan Bima karena ajakan Bima itu sendiri. Dia tidak tahu kalau Bima adalah pacar Nyla. Mendengar cerita dari Sinta, Nyla merasakan sesak di dada karena mendengar kekasihnya selingkuh di belakangnya sungguh tidak terobati. Nyla tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa nangis, diam, dan berpasrah. Tapi Nyla merenungi rasa sakit nya dan mencoba intropeksi diri. Mungkin Tuhan mengirim Bima sebagai alat untuk melakukan karma agar Nyla bisa merasakan apa yang dirasakan Purnomo dahulunya. 

Pesan moral dari cerita kedua tersebut yakni karma bisa saja datang lewat peristiwa yang bahkan dilakukan oleh orang tercintamu. Namun kamu tidak sadar. Cak Lontong pernah berkata "Ketika kamu bilang biarkan tuhan yang membalasnya, yang harus kamu tahu bahwa yang kamu alami sekarang adalah balasan dari tuhan". Jadi jangan selalu menyalahkan orang lain saat rasa sakit, kecewa, yang mereka perbuat kepadamu. Bisa jadi orang yang membuatmu sakit tersebut ada peran Tuhan dalam menunjukkan keadilannya tentang "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan." 

Pesanku kepadamu wahai kekasih, teruslah berbuat baik walau di sekitarmu buruk. Filosofi menjadi mata air bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Putuslah mata rantai karma dengan intropeksi diri, ikhlas, dan selalu berbuat baik.


Continue reading Pesan Ke-22

Minggu, 25 Juni 2023

Pesan Ke-21


Tidak ada kunci untuk membuka rumahnya maka akan sulit untuk masuk ke dalam. Terlihat dari gelembung pesan di WhatApp seorang wanita meminta bantuan untuk membuka rumah tersebut. Namun ketika bantuan datang, seorang wanita tersebut telah menemukan caranya sendiri. Pemberi bantuan hanya bisa membawakannya secangkir es. Ia juga membawa palu untuk membobol rumah tersebut. Namun lagi dan lagi pemberi bantuan tersebut selalu datang terlambat. Karena rumah tersebut sudah bisa dibuka, maka seorang wanita tersebut bergegas menyuruh laki-laki yang ingin membantunya tersebut pergi. Tapi laki-laki itu tetap senang, karena ia bisa melihat orang yang dicintainya secara langsung.

Ada suatu filosofi yang ada dipikiranku mengenai kunci rumah yang dibawa oleh orang lain. Pertama, wanita tersebut ingin mengambil berkas penting yang ada di dalam rumah tersebut. Berkas-berkas tersebut adalah berkas yang sangat berarti dalam hidupnya. Karena hanya itu satu-satunya yang bisa memberikannya jalan untuk kepentingan administratif kedepannya. Kedua, timbulah sebuah masalah dimana kunci rumah tempat berkasnya tertinggal tersebut dibawa oleh temannya. Hingga mau tidak mau wanita itu harus membobol rumah tersebut. Terakhir, wanita itu meminta bantuan pada kekasihnya walaupun datangnya terlambat, ia terlebih dahulu menemukan jalannya sendiri untuk membuka rumah tersebut.

Maknanya ada hal yang berharga dalam diri wanita tersebut, sehingga wanita tersebut menjadi sesuatu yang sangat penting bagi seorang laki-laki yang memilikinya. Lalu masalah bermunculan dikemudian hari adalah laki-laki itu bukanlah pemegang kunci hati wanita tersebut. Wanita tersebut telah menemukan kunci yang tepat untuk membuka segalanya dalam hidupnya. Terakhir wanita tersebut sudah cukup aman dan tentram. Bahkan bahagia dengan laki-laki yang pas. 

Bingung bukan membaca tulisan yang satu ini? Aku sengaja memperumit tulisannya dan berharap tidak ada yang tahu maksud dan tujuan aku menulis naskah ini. Kata orang, mengikhlaskan adalah puncak dari cinta yang sangat dalam. Sebab itu ia merasa bahwa dirinya dengan orang yang dicintainya tidak pernah berpisah sekali pun dalam lafadz maupun raga telah terpisah. Laki-laki yang benar-benar mencintai itu sebenarnya telah memasrahkan dirinya untuk tidak lagi terlibat dengan perasaan mana pun. Baginya hanya ada satu cinta, selain itu hanyalah rindu-rindu yang menjadi bumbu penyedap rasa dalam hidupnya. Bisa juga selain cintanya yang telah hilang, setelahnya ia hanya menemukan jalan yang akan selalu memutar balikkan ingatannya. Meski ia telah mengikhlaskan, namun ia akan belajar banyak dari masa lalu yang teramat indah. Ia akan memperbaiki yang kurang dengan orang baru, meski tidak semudah di awal ia jatuh cinta.

Continue reading Pesan Ke-21

Rabu, 31 Mei 2023

Pesan Ke-20

 


Orang-orang banyak berbicara tentang kebenarannya masing-masing. Ada kebenaran yang disepakati seperti agama dan ada kebenaran yang hanya diakui secara individu seperti kebenaran perspektif. Terdapat banyak kesalahfahaman di dalam hidup ini. Karena manusia diberikan akal yang murni digunakan untuk berpikir, menyadari, mempelajari dan mengetahui. Tapi tidak semua orang yang menggunakan akal seperti demikian itu. Beberapa orang bahkan menggunakannya secara tidak murni dengan cara mengedepankan keegoisan yang ia paksakan agar diakui kebenarannya. Untuk mendapatkan itu, banyak orang yang saling menyerang satu sama lain. 

Contoh sederhananya seperti seorang anak yang ingin bermain bola, karena ia memiliki cita-cita sebagai pemain sepak bola yang hebat dan terkenal. Di sisi lain orang tuanya ingin anak itu belajar dengan tekun agar bisa mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Kedua-duanya sebenarnya sama-sama benar. Bagi sang anak, untuk mengejar cita-citanya menjadi pemain sepak bola yang hebat dan terkenal, bermain bola dan terus latihan adalah jalan yang benar. Tetapi bagi sang orang tua, membimbing anak untuk terus belajar dan harus mendapatkan nilai yang bagus di sekolah juga akan dianggap benar oleh orang tua. Kedua-duanya memiliki kebenaran menurut anak dan menurut orang tua. Inilah yang disebut dengan kebenaran perspektif.

Dengan adanya kebenaran perspektif tersebut, maka akan ada kesenjangan yang membuat antara anak dan orang tua selisih paham terhadap olahraga bola kaki dan belajar. Jika dilihat dari perspektif anak, karena cita-citanya menjadi pemain bola maka bermain bola adalah kebenaran yang harus ia lakukan. Dari perspektif orang tua, karena harus mendapatkan nilai bagus maka belajar yang tekun adalah kuncinya. Lalu di mana kesalahannya? Kesalahannya tidak ada. Hanya saja ada yang tidak sejalan atau kesalahpahaman antar anak dan orang tua. Lalu bagaimana cara mengatasi kesenjangan tersebut? Cara yang paling sederhana ialah menghargai kebenaran masing-masing orang.

Contoh menghargai kebenaran masing-masing orang seperti kebenaran anak dan orang tua tadi. Orang tua seharusnya bisa menghargai cita-cita anaknya yang ingin menjadi pemain sepak bola yang terkenal dan hebat. Hanya saja diarahkan dengan baik agar anaknya sungguh-sungguh menekuni hobinya tersebut. Boleh menyuruh anaknya belajar namun jangan larang mereka mengembangkan bakat yang telah ia miliki. Lalu anak juga demikian, juga harus bisa menghargai pendapat orang tuanya. Mungkin seorang anak bisa melakukan hobinya, namun terimalah opsi yang diberikan orang tua untuk tekun dalam belajar semampu anaknya saja. Jadi hobinya tetap jalan dan belajarnya juga tetap jalan.

Selain kebenaran perspektif, ada pula kebenaran yang telah disepakati. Salah satu kebenaran yang disepakati tersebut ialah kebenaran agama. Kebanyakan manusia mengakui kebenaran ini karena kuantitasnya yang sangat banyak. Agama telah disepakati oleh umat manusia untuk mengatur kepribadian atau individu dengan penuh budi pekerti yang luhur. Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari agama sekali pun, meski seorang tersebut adalah orang  ateis. Di sisi ketidakpercayaannya pada Tuhan, kaum ateis tidak mungkin tidak mengerti budi pekerti atau etika dalam kehidupan sosial. Hal yang mereka percayai sebagai suatu kebaikan sebenarnya juga merupakan bagian dari ajaran agama. Kebenaran yang disepakati ini sangat sulit untuk disalahkan karena memiliki landasan yang kuat dan sangat logis. Sehingga tidak bisa dibantah kebenarannya sekali pun dengan pemikiran yang paling cerdas. Jika kebenaran ini di klaim oleh salah satu kelompok dan kelompok tersebut menyalahkan kelompok lain dengan atas nama agama, sebenarnya kelompok tersebut belum beragama dengan baik dan benar. Sebab agama sangat menanamkan nilai-nilai kasih sayang dan budi yang luhur.

Ketika kita sudah memahami dua kebenaran tersebut lalu kita mengatasi problem yang ada pada kebenaran perspektif, maka kita akan terlepas dari kebenaran buta yang membuat hidup manusia tidak tenang walaupun sudah menganggap dirinya berada pada jalan yang benar. Karena benar yang dia maksud sebenarnya benar menurut dirinya sendiri. Sebab itu, untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah kita berlu teliti. Bahkan bisa saja kita melakukan penelitian terhadap kebenaran yang telah kita lihat atau kita dengar dengan telinga. Bisa jadi yang kita lihat dan kita dengar tersebut merupakan hipotesa yang harus kita uji kebenarannya melalui sebuah penelitian. 

Contohnya saat kita mendengar dari seseorang yang mengatakan "Si Fulan telah melakukan pencurian sepeda motor di Lokasi A". Orang bijak tidak akan langsung percaya begitu saja dengan tuduhan terhadap Si Fulan. Maka langkah yang bagus seharusnya kita melakukan mengolah terlebih dahulu informasi tersebut sebagai Hipotesa yang akan kita uji kebenarannya. Kita mulai dari melihat bukti-bukti yang ada hingga saksi-saksi yang berada di Lokasi A saat itu. Kemudian dari mana sumber informasi tersebut tersebar. Hingga kita menemukan titik yang benar-benar jelas dan didukung dengan fakta yang kuat. Barulah kita bisa mengambil kesimpulan apakah si Fulan benar-benar mencuri atau hanya fitnah belaka.

"Fahamilah semua kebenaran sebagaimana kita memahami keburukan. Bukan hanya keburukan yang perlu kita kepoin lebih dalam tetapi kebenaran juga seharusnya juga demikian"
-Zulpasmi-

Continue reading Pesan Ke-20

Kamis, 25 Mei 2023

Pesan Ke-19


Malam ini indah ya. Rembulan bersinar lembut dan menembus celah-celah daun. Membias remang saat menembus kaca jendelaku. Aku tak ingin malam ini berakhir begitu saja. Seolah ingin selamanya ku hentikan waktu. Kakiku mulai sejuk, karena angin malam yang terus membelainya. Namun ku biarkan saja mereka bermesraan. Sunyinya malam tak dapat ku bubarkan. Karena di sana ada imajinasiku yang ku bentang luas seluas semesta. Harapan tentu saja pasti ada. Ia hadir seperti kunang-kunang yang sekestika datang entah dari mana arah kedatangannya. Aku berharap tidak tau soal itu. Tetapi bintang-bintang bersuara merdu, memberitahukan bahwa kamu telah hadir dalam hidupku. 

Awalnya aku tidak percaya sama sekali kalau cinta itu nyata di dalam dada. Sebab aku meyakini cinta itu tertanam di dalam hati. Ternyata aku salah dalam beranggapan. Cinta bersemayam di dalam jiwa yang suci. Ia duduk tenang sambil memilih dan memilah rindu mana yang tepat untuk disajikan pada aku yang sedang bersedih. Kesedihan ini bukanlah akibat kekecewaan yang telah mengiris hati. Tapi disebabkan oleh ketiadaan dirimu yang membuatku resah dan semakin gelisah. Sedih yang mengalirkan air mata ke bumi yang tak tahu apakah sebelumnya mereka sudah berjanji atau belum. Namun demikianlah adanya. Baik aku atau siapa pun tidak akan tau apa yang telah disampaikan air mata itu ke bumi. Aku tidak berharap banyak untuk mengetahuinya. Tapi aku berharap dari tetesan air mata itu akan tumbuh benih cinta di hatimu.

Duhai malam, dapatkah kau mengendalikan diriku. Aku terbang di antara bintang-bintang yang terang benderang. Yang cahayanya tak dapat ku hitung berapa kecepatan yang dibutuhkan untuk sampai ke mataku yang buta ini. Aku telah membuang jam tanganku untuk itu. Sebab waktu bagiku bukan hanya detik yang berputar di jam tangan maupun jam dinding. Waktu bagiku adalah sebuah ruang yang tak akan dimengerti siapa pun. Seperti kecepatan cahaya bintang yang sampai ke mataku. Ia menyentuhnya dengan lembut, lalu keluarlah peri yang cantik mengelilingiku. "sedang apa?" tanya peri-peri cantik itu. Aku tidak percaya mereka ada tepat di depan mataku. Tapi itulah kenyataannya. Mereka mengajakku untuk berkeliling hutan. Membelai rumput-rumput seperti angin meniupkan daunnya. Memetik bunga yang tetap harum setelah aku pisahkan dengan batangnya. Aksara yang kini terukir diantara rasa sedih dan gembira sudah seperti nebula yang mengelilingi kepalaku. Tak satu nebula pun yang tak ku sapa. Mereka bercerita tentang lorong kosong. Manusia tidak akan mampu menggapai lorong tersebut.

Kemudian aku pulang kerumah. Tampak indah tempat tidurku yang telah dihiasi dengan bunga-bunga. Harumnya yang semerbak tak lagi ku hiraukan karena kenyamanan yang aku rasakan saat berbaring di sana. Aku berharap, kamu ada di sisiku pada waktu yang bersaman. Lalu kita bercumbu sambil merayu-rayu sunyi untuk ikut membungkam malam. Tapi malam malah protes pada kita berdua. Katanya ia ingin ikut bersenggama dengan sunyi. Karena telah lama mereka pecah karena siang tak kunjung senja. Hingga akhirnya kita tertidur pulas di malam yang sunyi. Hanya merekalah yang menjadi saksi betapa aku dan kamu telah menyatukan hati.

Teruntuk kamu, jangan pernah bosan menghadapiku. Aku adalah renjanamu yang bebas kau ekspresikan dalam setiap diksi, puisi bahkan dongeng pengantar tidurmu. Aku berharap kita berkumpul kembali bersama nebula yang indah. Nanti aku gantungkan harapanku di sana dan kau juga harus demikian. Setelahnya kita ayunkan untuk membiarkan harapan itu mengayun tertiup angin. Kau mungkin suatu saat merindukanku. Beberapa detik suaraku yang mendarat di telingamu akan membuatmu kegirangan bahagia. Dan kau mengulanginya beberapa kali hingga kau lupa itu hanya suaraku, bukan diriku. 

Pada akhirnya kita akan kembali menghantam langit dengan awan hitam. Menggoyangkan keimanan hanya demi suatu kepercayaan. Namun siapa sangka, suatu saat kita akan mewarnai langit dengan cerahnya sinar mentari. Pagi akan tiba kekasih. Itu dia mentari yang kita tunggu, hadirnya yang tidak disadari itu akan kita beri penghargaan berupa telaga kautsar yang abadi. Kita akan menatap langit bersama, kau menggenggam tanganku. Pun aku juga akan demikian. Lalu bersama melangkah menuju satu tempat yang sama. Yang orang-orang bilang namanya surga. 

Continue reading Pesan Ke-19

Jumat, 03 Maret 2023

KEHIDUPAN SELANJUTNYA

 "Hingga saat ini kematian masih menjadi misteri bagi semua orang yang masih hidup. Entah ada apa di balik kematian semua orang tidak tahu secara pasti. Mereka hanya tahu bahwa mati adalah kepastian"



Duahulu saat saya masih kecil saya berpikir kemana perginya orang-orang yang sudah meninggal. Apakah terkubur begitu saja atau mereka berpindah ke dalam alam yang lain dan lebih sempurna? Saya juga pernah berpikir apakah benar setiap orang yang meninggal akan menjadi salah satu bintang di langit? Beragam pertanyaan sudah muncul saat itu. Tidak tahu alasannya kenapa, akan tetapi itulah pikiran anak kecil yang belum tahu apa-apa dan sangat ingin tahu tentang kehidupan setelah kematian. Sampai akhinya saya berkhayal banyak hal tentang kehidupan setelah kematian. Entah ini adalah pikiran yang benar atau salah. Saya tidak terlalu memperhatikan kebenaran dan kesalahan waktu itu. Saya tidak ingin memenjarakan imajinasi saya di dalam kebenaran atau pun kesalahan, yang merupakan belenggu selama ini menggantung umat manusia. Hingga mereka membunuh Tuhan dengan kebenaran yang mereka klaim secaransepihak.

Waktu itu saya membayangkan jika manusia mati akan hidup kembali. Tetapi bukan seperti gambaran yang telah dijelaskan manusia pada umumnya. Hidup kembali yang saya maksud adalah reinkarnasi manusia ke bentuk yang lain. Misalnya si fulan meninggal dunia dan saat ia telah dikuburkan maka ia akan hidup lagi sebagai tumbuh-tumbuhan, udara, hewan, awan, pasir dan sebagainya. Jadi, manusia mati tidak serta merta mati. Tetapi melanjutkan kehidupan selanjutnya dalam bentuk yang berbeda pula. Ini adalah pikiran seorang anak kecil yang membayangkan sesuatu saat ia penasaran. 

Secara rasional, hal ini mungkin saja tidak bisa diterima karena tidak ada landasan apapun yang mendasari bahwa manusia yang telah mati akan hidup lagi dalam bentuk makhluk hidup lainnya. Siklus ini terus berkembang di otak saya pada saat saya belajar IPA di SMP. Mempelajari bagian-bagian alam semesta yang tidak tahu pasti luasnya seperti apa. Karena saya yakni, manusia yang tinggal di bumi saat ini hanyalah bagian terkecil dari yang paling kecil di alam semesta. Bukan karena ingin menentang pemikiran-pemikiran yang telah dibangun oleh agama selama ini. Tapi hanya penasaran dengan sesuatu yang biasanya wajar diterima oleh akan dibalik menjadi sesuatu yang tidak wajar diterima oleh akal. Contohnya, adanya kehidupan di akhirat yang katanya manusia akan kekal di dalamnya. Jika ia dimasukkan ke dalam neraka, maka ia akan kekal selamanya di neraka kecuali orang-orang yang mendapatkan belas kasihan dari Tuhan lalu memasukkannya ke dalam surga. Sebaliknya, jika seseorang masuk ke dalam surga, maka ia akan kekal selamanya di surga. Lagi-lagi kita tidak akan tahu apa-apa soal kehidupan di sana. Kita hanya diberikan gambaran tentang apa dan bagaimana yang sebenarnya akan terjadi saat kita telah melewati fase mati. Sejauh ini kita dituntun untuk mempercayai dan meyakini hal yang mustahil untuk dibuktikan. Karena semua telah dicekoki oleh kesaksian buta yang berdalih akan mendapatkan kebahagiaan abadi  atau kesengsaraan abadi sebagaimana yang telah saya jelaskan tadi.

Lalu apapun yang akan terjadi setelah manusia mati, kita semua tidak mengetahui apapun soal itu. Tapi menurut saya sendiri, selain harus mempercayai dan meyakini adanya akhirat sebagai kehidupan selanjutnya. Hendaklah kita bisa meyakinkan diri kita sendiri tentang kehidupan setelah kematian tersebut. Karena saya pernah membaca "Keyakinan buta akan jauh lebih berbahaya dari pada kebohongan". Jika benar kalian meyakini kebenaran adanya akhirat, maka yakinkan terlebih dahulu dirimu sendiri. Sebab kebenaran yang dibungkus oleh sebagian kaum beragama bisa saja digunakan untuk menguasai diri mu hingga kamu lepas kendali dan dipaksa tunduk tanpa diperbolehkan menggali lebih dalam lagi akan makna yang sesungguhnya dari akhirat. Hingga akhirnya saat kamu bisa menjawab semua yang dipertanyakan orang-orang yang meragukan kebenaran adanya akhirat yang telah dikemukakan oleh agama yang kau anut.

Semoga bisa memahami dan teruslah bertanya untuk berpikir.
Continue reading KEHIDUPAN SELANJUTNYA

Kamis, 02 Maret 2023

MATI ADALAH KABAR GEMBIRA

KEMATIAN ADALAH BAGIAN DARI KEHIDUPAN


Halo semuanya, kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tapi berdasarkan pandangan dan pengalaman saya sendiri. Saya pernah mendengar dan membaca suatu kalimat dari sebuah film yang berjudul "Laal Singh Cadda". Kutipan kalimatnya ialah "Bukankah kematian juga bagian dari hidup". Ya, kalimat itu menurut saya sangat tepat. Mengapa? Karena pada dasarnya setiap yang bernyawa akan mati. Kalimat ini awam bukan? Tapi saya ingin lebih memperdalamnya dengan analogi hidup yang sesungguhnya. Apakah sebenarnya kita selama ini benar-benar hidup atau hanya suatu komponen organ yang membentuk tubuh? Dan kita hanya menumpang hidup di dalam komponen organ tersebut. Sebenarnya, sebagai makhluk hidup seharusnya kematian adalah pembahasan yang paling menyenangkan dan asik untuk dibicarakan. Menurut saya, anggapan-anggapan kematian adalah suatu yang menakutkan kurang tepat. Padahal banyak orang yang tahu bahwa kehidupan yang sebenarnya akan benar-benar dimulai pada saat kematian telah terjadi pada diri seseorang. Itu pun mungkin kalau benar-benar ia memulai hidup yang baru. Jadi, bagi saya seseorang yang mati tidak layak untuk diduka citakan. Mungkin lebih layak untuk kita suka citakan, karena ia telah lepas dari beban yang selama ini memenjarakan manusia yakni dunia. Betapapun hebatnya dunia ini memberikan manusia kebahagiaan, tetap saja dunia akan menjadi titik ukur kesengsaraan manusia setelah ia mati. Karena bagi kaum beragama, selayaknya dunia harus diimbangi dengan akhirat (kehidupan setelah mati). Tapi bagi kaum sophia mereka akan terus mencari kebijaksanaan hingga menemuKan satu titik mereka akan tetap hidup walaupun ada kata "mati" suatu saat nanti. Begitu pun kaum sufi yang bahkan menganggap hanya satu yang layak ada dan yang ada tersebut hidup selamanya (kekal). 

Sekarang pertanyaan baru mulai muncul, siapa yang mengisyaratkan kematian adalah kabar buruk untuk pertama kalinya sehingga harus disuka dukai? Bahkan dalam ajaran agama pun kematian tidak lain hanya sebagai pengingat bahwa semua yang hidup, cepat atau lambat juga akan mati. Kematian ini hanya dialami oleh setiap yang bernyawa. Lalu apa sebenarnya nyawa? Apakah nyawa itu memang benar-benar hidup atau selama ini kita salah kaprah dengan kata nyawa? Ternyata nyawa memiliki arti kehidupan, bukan hidup. Saya menganalogikan kehidupan dengan imbuhan "ke" dan "an" yang memiliki maksud tertentu dan bagi yang menggalinya lebih dalam akan mendapatkan satu arti yang sebenarnya dari nyawa yang diberikan kepada manusia. Secara bahasa, imbuhan "ke" biasanya digunakan keterangan status atau pun tujuan. Sedangkan imbuhan "an" biasanya membentuk suatu nomina abstrak dan konkret. Sedangkan hidup sebenarnya memiliki definisi mencari identitas diri. Bagi saya orang yang telah mengetahui makna hidup yang sebenarnya tidak akan mati. Mungkin ada yang mengatakan "si fulan telah mati", tapi saya meyakini bahwa si fulan itu hanya mati sebatas fisik. Selebihnya saya tidak tahu apakah ia benar-benar mati. Ini sama halnya dengan orang yang mengatakan "si fulan masih hidup, dia ada di sana" dan itu pun saya tidak meyakini si fulan tersebut apakah benar-benar masih hidup? Secara lahiriyah memang benar si fulan masih hidup. Memang semuanya masih memiliki misteri yang sangat sulit dipecahkan. Pertanyaan sederhana yang ada di awal paragraf ini bagi beberapa orang mungkin tidak penting dan tidak perlu dipertanyakan karena mereka hanya mengalir seperti sungai. Mengikuti arus saja dan tidak tahu kemana ia akan sampai. Apa yang orang katakan, selagi memiliki dasar berselimut agama ia akan ikuti. Tapi bagi saya ini sangat penting. Agar kesaksian yang benar-benar menyaksikan adanya yang ada dan saya harus menyadari apa yang ada di sekeliling saya apakah benar-benar makhluk hidup atau hanya sekedar mayat yang berjalan. 

Saya akan mengutip beberapa kata-kata di akhir statement yang menurut saya ada kaitannya dengan kematian dan kehidupan. Berikut beberapa kalimat tersebut:

"Janganlah bersedih, datang dan perginya seseorang di dalam hidupmu tidak lepas dari tanda tanya di hatimu. Kau hanya belum menemukan jawaban, bukan telah ditinggalkan" 
[Zulpasmi]

"Saya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan." 
[Socrates]

"Hal yang paling pasti dalam hidup ini adalah kepergian, karena pertemuan masih menjadi misteri"
[Zulpasmi]

"Dalam hidup ini, ada hal-hal yang tak ingin Anda lanjutkan, namun Anda terlalu takut untuk mengakhirinya."
[Socrates]

"Banyak yang menyukai senja, tapi mereka tidak sadar bahwa setiap hari hanya ada pagi yang selalu menyapa"
[Zulpasmi]

"Belajar dari kemarin, hidup untuk sekarang, berharap untuk besok. Hal yang paling penting adalah jangan berhenti bertanya."
[Albert Einstein]
Continue reading MATI ADALAH KABAR GEMBIRA

Rabu, 04 Januari 2023

2022-Setahun Kemudian



Januari 2022, tepat setahun yang lalu. Saya banyak belajar dari tahun tersebut. Ikhtiar, harapan, perpisahan, pengingkaran, keterasingan, kesendirian, pendam, dendam, ketidakpercayaan terhadap manusia hingga hampir tak percaya kepada Agama yang saya anut saat ini. Satu tahun penuh semuanya mengisi kepalaku yang sekarat. Tahun di mana saya menemukan beberapa jawaban yang kini melahirkan pertanyaan baru. Mungkin saja ini adalah hukum kausalitas yang hadir dalam hidupku pada September 2021. Tepat di mana kecerobohan demi kecerobohan yang saya lakukan tanpa berpikir matang. 2022 saya telah merubah banyak hal di dalam diri saya. Sebagaimana janji saya untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin. Tapi setelah perubahan demi perubahan yang saya lakukan dengan sungguh-sungguh, ternyata tidak memiliki efek apapun terhadap beberapa orang. 

2022 adalah rahasia saya yang mungkin tidak akan saya lafadzkan sedikit pun dan pada siapa pun. Saya akan membiarkan mereka mengasumsikan diri saya sebagai manusia terlebay dalam kegalauan-kegalauan yang selalu saya posting. Saya akan membiarkan mereka mencerna semua yang saya posting sesuai pemikiran mereka masing-masing. Saya sungguh tidak peduli itu. Setengah tahun pertama di tahun 2022, adalah perkembangan yang positif untuk saya bahkan saya hidup lebih produktif. Mungkin karena seseorang.  Namun setengah tahunnya lagi di tahun 2022, sungguh peristiwa yang sangat buruk terjadi. Entah kalian memahami "peristiwa buruk" itu seperti apa, yang jelas saya tetap akan merahasiakannya. Mungkin hanya dua orang yang mengetahuinya waktu itu. Tapi yang paham menurutku hanya Satu. 

Setengah tahun yang malang. Di mana luka-luka itu saling mengobati. Setengah tahun itu, saya memilih jalan sunyi. Saya memendamnya sendiri, tanpa bercerita pada siapapun. Mungkin itu alasan saya melukis kembali setelah sekian lama saya tidak pernah melukis. Memang berat! Saya tahu setiap orang memiliki masalahnya masing-masing dan solusinya masing-masing. Sebagian dari mereka, mungkin memiliki tempat untuk bercerita. Tapi tidak semua orang memiliki tempat cerita dan yang mau menceritakan masalahnya. 

Terimakasih tahun 2022 yang telah membuat saya seperti saat ini. Saya sudah tidak peduli lagi tentang wanita sebagai pasangan, saya tidak peduli lagi tentang perbuatan-perbuatan orang laik kepada saya, baik itu berupa kebaikan maupun keburukan, saya tidak peduli lagi perkataan-perkataan orang lain terhadap saya, saya tidak peduli lagi tentang ancaman-ancaman yang datang baik itu dari manusia maupun Tuhan. Saya berkata demikian, karena saya pecaya bahwa Tuhan sebenarnya tidak pernah mengancam siapapun. Saya hanya percaya bahwa Tuhan itu Maha Cinta dan Maha Mencintai.

Saya yang dahulunya penakut, sekarang rasa takut itu telah hilang. Saya yang dahulunya pendendam, sekarang segala dendam itu telah pergi. Saya yang dahulu bisa tertawa lepas, sekarang saya berusaha agar tertawa saya bisa pas dengan tawa-tawa orang sekitar saya. Saya tahu sekarang keburukan apapun yang terjadi adalah kesalahan saya. Lalu kesenangan apapun yang terjadi adalah jasa kalian semua. 

Saya belajar banyak hal di tahun 2022, setahun kemudian lagi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya dan saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada kalian. Terimakasih.


"Pertemuan itu adalah sesuatu yang sangat misterius. Jika kamu ingin sesuatu yang pasti, tunggulah perpisahan yang akan terjadi."

[Jambi, 4 Januari 2022] 

Continue reading 2022-Setahun Kemudian

Kamis, 17 November 2022

Pesan Ke-18

 "Suatu hari aku akan pergi jauh dan kepergian itu akan kusebut dengan PULANG. Kalian bertanya kan, kapan aku pulang?"





Matahari yang sudah menyingkap langit agar orang-orang terbangun dan memulai aktivitas nya kembali. Sebagian orang sibuk ke sekolah, kerja dan ada yang di rumah saja. Waktu itu tepat pukul 9 pagi, seorang anak muda yang masih berada di atas kasurnya. Terus menerus memaksa matanya untuk terpejam. Meski tahu ia tidak mengantuk sama sekali. Meski matahari sudah bersinar terang dan membuat silau matanya. 

Seketika dari lalu lalang manusia-manusia yang penuh kesibukan itu datang memperhatikannya. Di sisi lain ibu dari pemuda tersebut telah membangunkannya. 'cukup tidurnya, cobalah pergi ke acara anak-anak muda itu. Lihatlah si fulan bergaul, punya banyak teman, dan ini dan itu....' ada banyak lagi ocehan yang keluar dari ibu pemuda tersebut. 

Datang seorang perempuan yang tak lain adalah kakak pertamanya. Ia bertutur 'sakit tapo e adek ko mak, tando e dak bangun-bangun'. 

Mungkin demikianlah gambarannya. Pemuda itu mendengar. Sambil memejamkan matanya dan menahan semua derai air mata, di kamar, SENDIRIAN. Sudah sejak dahulu ia tidak pernah cerita apapun dan pada siapa pun. Ia pandai mengarang-ngarang cerita seolah hidupnya mulus tanpa hambatan apapun. Ia pintar menyusun kalimat untuk memanipulasi orang-orang agar hanya diketahui sebagai orang yang tenang, berilmu, dan penuh kesopanan. Padahal aslinya tidak begitu. 

Sedari kecil ia sudah memendam, menahan, tanpa tahu cara bercerita dan harus memulai cerita dari mana, ia tak tahu. 

Suatu saat mungkin jika benar terjadi, pemuda itu akan PULANG ke kampung halamannya. Tempat di mana ia akan benar-benar tenang untuk selamanya. Mungkin kesalahan dirinya sendiri, mengapa ia memilih pendam? Mengapa tidak bercerita saja? Tutur orang yang tidak pernah merasakan ceritanya diadu nasib dengan cerita orang lain bahkan juga diadu nasib dengan yang mendengarkannya. 

Jika manusia memiliki masalahnya masing-masing, mengapa seolah manusia-manusia itu mengintimidasi permasalahan hidup orang lain dengan mencecar 'makanya begini, makanya begitu, dan sebagainya'

Nanti aku minta ada orang yang menabur bunga mawar dan melati bersamaan di atas rumah pemuda itu. Itu pun jika ada, jika tidak aku juga tidak apa-apa.

Dengan hati yang penuh maaf, pemuda itu akan selalu memaafkan siapapun. Dengan hati yang penuh kepasrahan, pemuda itu hanya bisa memendam, tentang apa-apa yang telah terjadi, yang ia rasakan, dan tentang motivasi hidupnya.

Surat ini spesial, dari pemuda tersebut yang aku tulis untuk mengabarkan kepada keluarganya dan orang-orang terdekatnya agar nanti mereka tidak terkejut jika pemuda itu sudah PULANG ke kampung halamannya.

Jambi, 17 Nov 2022
Continue reading Pesan Ke-18

Selasa, 15 November 2022

Pesan Ke-17

 "Taburkan lah bunga mawar selagi aku hidup, kelak melati belum tentu tumbuh saat aku sudah mati"



Nampaknya sudah terlambat, jika seseorang mencoba untuk memberiku semangat. Masalah nya bukan di luar seperti yang terlihat lagi, namun sudah terselubung di dalam ruang-ruang ingatan. Waktu pun tak ingin mengusut tuntas tentang sirat pendam di dalam benak ku.

Orang-orang juga berbicara tentang takdir. Sedangkan mereka tidak tahu isi takdir itu sendiri. Seperti bunuh diri contohnya. Banyak istilah seperti 'mendahului takdir' yang terus terucap dari mereka yang masih normal secara mental. Tapi apakah mereka pernah mengira bahwa seseorang yang bunuh diri, mungkin juga itu yang tertulis di takdir mereka. Bukankah kematian itu takdir? Siapa yang bisa mengetahui seseorang akan bunuh diri? Siapa yang mengetahui penyebab orang itu akan bunuh diri? Aku membela mereka, karena yang aku lihat mereka hanya daun kering yang telah lama gugur, lalu orang-orang menyiraminya air. Berharap daun yang telah lama gugur tersebut tumbuh menjadi pohon. Padahal tidak demikian konsepnya.

Mereka melihatnya sederhana, sangat sederhana. Itu sebab nya mereka selalu menyayangkan orang-orang yang mati bunuh diri. Bagi mereka itu adalah hal yang konyol dan bodoh. Tapi apakah mereka merasakan apa yang orang mati bunuh diri itu rasakan? 

Mawar,
Bunga yang sangat aku sukai sejak Desember 2021. Sebelumnya aku juga menyukai setangkai bunga lain, bunga itu adalah bunga melati. Sekarang aku memiliki dua bunga yang aku sukai, bunga mawar dan bunga melati. Namun tampaknya, bunga mawar lebih menghidupkan alam sunyi ku. 

Bunga melati,
Nanti giliran mu yang harus tumbuh saat aku mati. Tebarkan aroma mu yang semerbak itu pada setiap sembilu di hati orang-orang yang suka memendam. Kendati demikian, aku sudah pernah berusaha keras menghidupkan mental ku kembali. Tapi ada suara-suara manusia yang mengusiknya. Mereka tidak tahu betapa berisiknya kepala ini. Tapi ya sudah lah. 

Nanti aku hanya akan berpesan, mawar ku tidak boleh ada yang menyentuhnya. Melati ku harus menggantikan mawar itu saat aku mati. Ingat! Hanya ada setangkai bunga mawar dan melati. Di antara mereka, bunga mawar yang hidup selama aku hidup harus ikut mati jika aku mati. Bunga melati yang sedari dahulu mati saat aku hidup, ia harus tumbuh saat aku telah tiada untuk selamanya.

Penuh sirat kata yang aku cantumkan dalam surat kali ini, penuh filosofis yang jika dikupas kalian akan menemukan penyebab aku mati, suatu hari nanti ^_^
Continue reading Pesan Ke-17

Senin, 14 November 2022

Pesan Ke-16

 Dear Jodoh | 14 November 2022



Dahulu aku sangat mahir dalam mengelola perasaan, menjalani sebuah hubungan dan menjaganya. 

Teruntuk jodohku. 
Aku pernah berdoa keras agar segera dipertemukan dengan mu. Bahkan aku selalu berpuisi, agar kicau ku terdengar merdu dari kejauhan dan aku berharap kau mendengarnya. 

Sekarang, setelah waktu-waktu yang terus berlalu dengan penuh kekosongan. Harapan ku tentang jodoh musnah sebagaimana harapan ku terhadap cita-citaku. 

Teruntuk jodohku.
Maaf jika nanti aku tidak seperti manusia-manusia lain. Aku pun demikian akan selalu memaafkan mu. Perlu untuk dirimu ketahui, aku adalah seorang yang aneh. Memilih tempat-tempat gelap sebagai rumah ternyaman ku. Begitu pun kebiasaan ku, aku memiliki kebiasaan yang aneh, yakni kebebasan yang selalu aku lakukan sesuai apa yang ada dipikiran ku.

Tapi lagi-lagi aku harus mengucap maaf, jika aku tidak kau temukan. Mungkin saja aku akan kembali pada-Nya lebih dahulu dari yang ditakdirkan. Bisa jadi, itu juga karena takdir Tuhan yang membuat jalan ceritanya demikian.

Teruntuk jodohku.
Aku akan selalu mendoakan mu di mana pun kamu berada. Aku akan sangat bersyukur jika nanti kamu menerima aku dengan segala keanehan ku. Ada banyak keanehan yang nanti kau lihat hanya dengan cara berjalan beriringan dengan langkah kaki ku.

Tuhan mungkin belum mengizinkan kita bertemu sekarang. Namun seandainya kita sudah kenal sebelumnya sebagai seorang teman atau sahabat. Aku akan membukakan semua topengku pada mu. Agar kelak kau tidak menyesal menerima ku saat aku memilih mu. 

Untuk jodohku.
Jika kau memiliki kekurangan, apapun itu. Jangan sungkan untuk kau paparkan. Karena sejatinya aku, jauh lebih tidak sempurna. Tujuannya hanya satu, yakni 'KITA SALING MENUTUPI KEKURANGAN'. Entah dengan cara saling menghibur, berbagi cerita, saling mengerti, hingga saling memaafkan.

Mungkin mimpiku tentang jodoh sudah redup. Aku harap nanti kau datang menyalakan ruangan gelap di hatiku. Tinggal lah di sana! Semoga kau nyaman dengan suasana sunyi nya. Aku akan menjaga mu, jika sempat bertemu. 

Semoga kau selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Mencintai. 



Jambi, 14 November 2022
-Zulpasmi-

Continue reading Pesan Ke-16

Minggu, 13 November 2022

Pesan Ke-15

 "Ketika manusia lupa bahwa Cinta hanyalah iming-iming di mata pendusta. Mereka hanya ingin sesuatu yang menguntungkan, bukan yang membutuhkan"




Di antara manusia-manusia itu, ada yang menamakan rumah sebagai tempat tinggal untuk berlindung dari cuaca. "Cuaca apa?" Tanyaku kebingungan. Bukankah hujan bukan hanya tentang jatuhnya air dari langit ke bumi? Tapi juga ada hujan yang jatuh dari mata dan melewati pipi.

Di antara manusia-manusia itu, ada pula yang menamakan rumah sebagai tempat pulang, tempat peristirahatan ternyaman dan teraman setelah seharian beraktivitas. Lantas, apakah yang disebut pulang hanya tentang rumah? Bukankah suatu hari kau, aku, dan kita semua akan pulang namun tidak ke rumah melainkan kembali pada Tuhan.

Jika banyak suara di jalan-jalan yang kau lalui, lalu membuatmu pusing karena berisik. Lantas apa gunanya sunyi malam yang kesepian. Bukankah sunyi adalah hati yang kosong meski kepala dipenuhi benang kusut, tinta yang tumpah, dan awan gelap? Bisakah manusia-manusia itu merasakan?

Atau manusia-manusia itu sudah berkamuflase menjadi makhluk yang menyeramkan? Entahlah aku tidak tahu lagi. 

Sesak! Iya sangat sesak. Aku tidak tahu apa yang mengusikku setiap hari. Mereka bergemuruh dan sangat berisik. Hingga aku mencari suasana yang lebih berisik dari berisiknya kepalaku. Nyatanya tak ada yang lebih berisik dari isi kepalaku.

Apakah harus ada obat penenang? Atau aku harus memilih tenang untuk selamanya? Entahlah aku tidak tahu lagi.

Saat disuruh pulang, dada ku langsung sesak, jantungku seketika berdegup kencang dan kecemasan menjajah isi kepala. Entah itu karena pulang ada kaitannya dengan rumah atau dengan isi rumah tersebut.

Mungkin suatu saat seisi rumah itu akan bertanya-tanya kemana anak itu pergi? Seisi rumah itu tidak akan tahu bahwa anak itu bukan pergi, namun ia telah mati. 

Raganya hanya akan menjadi simbolis bagi harapan-harapan yang mereka gantung tinggi setinggi khayalan anak itu tentang cita-citanya. Ia hanya akan merasa gagal untuk menjadi apapun dan siapapun.

Untuk sekian kalinya aksara itu mengipaskan tangannya untuk melerai nebula agar impiannya terasa nyata dan tak membuatnya kecewa. Hingga nanti, saat ia pulang untuk selamanya dan benar-benar tak lagi kembali.



Continue reading Pesan Ke-15

Senin, 07 November 2022

Pesan Ke-14

 "Aku ingin berpuisi, tapi tak tahu untuk siapa? Aku hanya ingin menyuarakan sunyi yang ada di hati dan berisik yang menggema di dalam kepalaku"





Aku ingin berpuisi. Tapi tak tahu diksi mana yang harus ku pilih dari sekian banyaknya serpihan luka di hati. Mereka menyerbuku untuk menusuk-nusuk alam pikiran. Tak tahu mana yang menunjukkan kepedihan mendalam antara luka yang tak berdarah atau linang air mata yang berkaca-kaca.

Aku ingin berpuisi. Sebagaimana sunyi bernyanyi di kepalaku. Dengan beberapa bait lirik yang mengisahkan seorang pria pendiam lagi menyendiri. Pria itu tumbuh sebagai keinginan orang tuanya. Jika tidak ikut 'durhaka' katanya. 

Aku ingin berpuisi. Di tiap-tiap jalan yang menyembah kenangan. Mereka selalu menabur mawar tanda duka atas hilang arahnya seorang pria. 

Di manakah seorang pria yang pernah meninggalkan topi merah putihnya saat SD itu? Masih hidup? Atau hanya terlihat hidup?

Aku ingin menyembah malam. Dengan segala gelapnya yang mencekam. Bahkan butuh beberapa lilin untuk menerangi jalan, sialnya seorang perempuan menghembusnya dengan kejam. 

Aku ingin menghamba pada sunyi, nyatanya ia telah diusik oleh orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah rumah dan merekalah tempat pulang.

Apakah rumah itu benar-benar layak untuk dihubungkan dengan kata 'pulang'. Atau sejatinya rumah itu hanya penjara di dunia yang penuh kisah-kisah kejam?

Aku tidak tahu sejauh mana depresi ini menjajah otakku. Berpuluh tahun merawat luka. Hingga pendam yang mulanya ingin dendam. Sekarang pendam itu menjadi peredam, bagi harapan yang hilang dari mata seorang pria. 

Tentang cita-cita yang tak lagi hidup, tentang tujuan hidup yang ditelan waktu dan tentang malam-malam yang menyimpan rahasia pria malang itu. 
Continue reading Pesan Ke-14

Minggu, 28 Agustus 2022

Pesan Ke-13


Banyak yang berbicara tentang cinta namun masih ada benci dan dendam di hatinya. Banyak yang memotivasi tapi masih ada penghinaan darinya. Banyak yang hadir namun hanya sebagai pengantar bukan pendamping. Apakah ini kemauan mu ya Tuhan?

Kita adalah awan yang bergerak ditiup angin. Aku tidak memiliki pesan apapun sampai awan itu lenyap sebagai hujan dan hadir membawa kehidupan di bumi. 

Aku tidak pernah membayangkan seperti apa hidupku di masa depan. Aku juga tidak pernah menduga bagaimana nantinya aku akan bangkit kembali. 

Terkadang kita memiliki sesuatu untuk diceritakan namun tidak ada telinga untuk mendengarkan, yang ada mulutnya yang akan menggubris setiap celah cerita itu. 

Lelah sebenarnya. Iya sangat lelah. Dua kali percobaan bunuh diriku gagal. Entah dengan hari esok. Rifa'i Rif'an dahulu pernah memotovasi seperti ini:

"Hidup sekali, berarti, lalu mati"

Tapi jika tidak berarti bagaimana? Berarti atau tidak yang pergi meninggalkan akan tetap meninggalkan. Baik yang menyenangkan atau yang menjengkelkan semuanya pasti akan berlalu. Namun jika dikenang pasti berdampak juga untuk kehidupan di masa sekarang.

Kita melewati bebeeapa momen indah dalam hidup kita. Ada keindahan yang bertahan hingga sekarang, ada pula yang telah lenyap dan usang.

Pesanku untuk siapapun yang merasa:

"Mungkin kamu mengenalku, tapi tidak dengan ceritaku. Mungkin kamu melihatku dengan telinga, tapi tidak dengan mata. Setiap orang memiliki kecewaan dan kebahagiaannya masing-masing. Kau boleh jadi melihat luarnya penuh dengan bahagia, namun tidak di dalamnya. Begitupun sebaliknya. Jika ada orang bercerita pada mu dengarkan sajalah jangan komentari dalam waktu dekat. Kau boleh memotivasinya tapi jangan mengomentarinya. Karena memotivasi dan mengomentari itu sangat jauh beda. Dan kamu........."

Ya udahlah ga lanjut lagi nulisnya entah gimana karirku jangan ditanya lagi

Continue reading Pesan Ke-13

Minggu, 14 Agustus 2022

Pesan Ke-12


"Pemandangan yang indah di sore hari dan aku tidak lagi melihat wajahnya yang berseri"

Iya. Mereka-mereka benar. Aku harus melangkah demi terus hidup. Terkadang kita memilih apa yang kita suka. Tapi itu membuat hidup kita terus terluka. Terkadang pula kita membenci hal baru yang tak sama dengan masalalu. Padahal itu adalah obat bagiku. 

Sekarang aku baru sadar dan sangat berterimakasih atas orang yang telah membuat aku sadar. Mengapa? Banyak orang yang tersakiti hanya karena aku menceritakan masa lalu dan menganggap tidak penting orang baru. Banyak di antara mereka yang tidak sekedar suka tapi lebih dari itu, mereka juga memiliki rasa. Apapun itu, sungguh aku minta maaf.

Aku melupakan bahwa hidup ini layaknya layang-layang. Kita terbang dan ditiup oleh angin. Hanya dua kemungkinan, kalau tidak putus maka layangan itu akan ditarik kembali. Sama hal nya dengan hidup. Kita diterbangkan oleh angan-angan lalu diputuskan oleh harapan atau diberi keberuntungan dengan terwujudnya suatu harapan.

Manusia memang makhluk aneh. Memiliki akal pikiran yang bisa menundukkan penduduk bumi lainnya. Tidak ada yang lebih tinggi dari manusia. Tapi manusia bisa dilemahkan oleh waktu, nafsu, dan kematian yang semua itu dipegang kendali oleh Tuhan Yang Maha Menciptakan. 

Jujur ini adalah pengalaman pertama ku setelah lama aku tidak memikirkan diriku sendiri. Tentang dua orang yang berani angkat bicara tentang diriku. Kalau tidak begitu, entah bagaimana lagi pikiran ku. Mereka adalah T dan S. Salah satunya aku suka. Cara dia berperilaku dengan spontanitas adalah tipe orang yang aku suka. Karena aku tidak suka orang yang lurus-lurus saja dan meng-iya iyakan saja. Berkat mereka aku mengerti apa yang harus aku lakukan. Terimakasih dua orang hebat. 

Masalah pertama hampir ditemukan jawabannya. Masih ada empat masalah lainnya yang belum diketahui siapa pun. 

Satu lagi, ketika pulang dari nongkrong malam itu. Aku menyingkronkan kalimat yang kalian buat pada malam itu:

"Tidak ada yang mau dengan orang yang belum selesai dengan masalalunya"

Kalimat yang paling Top bagiku. Aku sinkron kan dengan salah satu arti lirik lagu Bollywood:

"Apakah kita sejua ada dalam sebuah kisah? Atau mungkin ada kisah dalam setiap diri kita?"

Terimakasih sekali lagi. Aku akan terbuka untuk orang baru. Akan mencoba sebisa mungkin. Siapa pun itu. Mungkin tantangan sendiri bagiku karena sekarang aku tidak suka terang-terangan. Jadi, ga apa-apalah ya lewat gelap. Hehe.

Thanks 'T' and 'S'
Continue reading Pesan Ke-12

Kamis, 11 Agustus 2022

Pesan ke-11

Negeriku ini kenapa sih, banyak yang ahli agama namun yang dipercaya hanya bergamis doang.

Negeriku ini kenapa sih, banyak ahli-ahli hukum yang paham hukum, namun tak sedikit dari orang yang sok paham hukum menghakimi orang lain.

Negeriku ini kenapa sih, banyak animasi-animasi yang mengisyaratkan persatuan namun tak sedikit dari tayangan tentang pertikaian.

Negeriku ini kenapa sih, banyak orang yang berpendidikan namun tak sedikit berakhir untuk kepentingan sendiri dan menutup telinga bagi yang membutuhkan.

Negeriku ini kenapa sih, dikatakan demokrasi tapi banyak yang dibungkam, dikatakan komunis tapi banyak yang sok agamis, dikatakan bukan kapitalis tapi banyak pengusaha yang membunuh secara tidak langsung dan tragis.

Negeriku ini kenapa sih, karya-karya anak bangsa kaya raya namun ditutup dengan mereka yang berlembaga dan menghapus citra rasa.

Negeriku ini kenapa sih, semakin maju teknologi namun tidak sedikit menyalahgunakannya.

"Aku tidak tahu, hanya tuhan yang maha tahu"

Lalu apa gunanya tuhan menyuruh kita berpikir?
Continue reading Pesan ke-11

Sabtu, 06 Agustus 2022

Pesan Ke-10


Kamu tidak menyangka? Setelah beberapa kali aku tidak ingin lepas dan terus mempertahankanmu, masih kau bilang tidak menyangka?

Jujur, setelah kejadian itu aku tahu betapa rumit nya perempuan. Ada kata-kata lagi dari Sujiwo Tejo:

"Jangan lari agar dikejar, jangan sengaja hilang agar dicari. Berjuang tak sebercanda itu kekasih"

Kau tidak sadar diri mu sepenting itu bagiku? Lalu setelah kau ingin pisah sekali pun aku tetap saja dengan pendirianku dengan menganggap mu sebagai orang yang selalu bersamaku. Tapi apa? Salah? Ya, aku mengaku salah. Kau bilang "aku tidak peduli padamu". Aku membenarkan itu. Kau bilang juga "sudah diberi kesempatan tapi tetap tidak berubah". Apa yang harus aku ubah? Kau hanya bisa marah, marah, dan marah.

Kontrol emosi mu! Itu yang selalu aku ingatkan kepadamu. Aku jadi ingat sebuah pepatah.

Jangan mengambil keputusan saat sedang marah dan jangan berjanji ketika sedang bahagia

Timbul kebingungan dalam diriku karena apa yang kau suruh ubah aku ubah. Kau suruh aku berubah menjadi A aku menjadi A. Kau suruh aku berubah menjadi B aku menjadi B. Tapi kenyataannya bagaimana? Kau suruh aku berubah menjadi A, lalu aku berubah menjadi A kemudian kau malah menginginkan yang B. Aku di sini kebingungan mengikuti semua apa yang kau mau. Aku bukannya enggan untuk nurut kepada mu. Aku terus berusaha menjadi apa yang kau mau. Tapi kemauan mu tidak terbatas. 

"Seharusnya kesabaran itu seperti keinginan. Yang tidak ada batasnya" (Sujiwo Tejo)

Tapi sabar memang kalau dihadapkan dengan logika, pasti ada batasnya. Berbeda sabar yang berasal dari hati. Tiada batas bagi sabar yang murni dari nurani manusia. 

Setelah diri mu memutuskan pergi, kau tau apa yang terjadi? Ketakutan ku yang hanya 1% sekarang sudah 0%. Aku tidak takut apapun selain Tuhan sekarang ini. Aku tidak takut disakiti. Aku tidak takut untuk tidak dianggap. Aku tidak takut jika tidak diperhatikan. Aku tidak peduli semua yang ada di sekitarku. Aku penyendiri dan sekarang bukan hanya penyendiri. Melainkan anti sosial yang luar biasa. Mengapa bisa terjadi? Aku memahaminya hanya satu. Perjuangan ku dalam membanggakan setiap orang selalu gagal. Baik itu untuk mu, keluarga ku, teman-teman ku, dan semua yang memiliki kontak langsung maupun tidak langsung dengan ku, aku adalah orang yang gagal membanggakan kalian. 

Aku pesimis? Ini bukan hal pesimis atau optimis. Kau pernah mengikuti lomba panjat pinang? Tidak kan? Bagi dia yang berhasil sampai memanjat inang tersebut dia akan gembira dan bahagia. Tapi bagi dia yang tidak sampai memanjat pinang tersebut, dia hanya bisa menopang teman-temannya untuk sampai ke puncak dan menjadi pemenang. Itulah aku sekarang.

Aku sudah tidak peduli tanggapan orang aku dengan si A lah, aku dengan si B lah, bagi ku semua sama saja. Rasanya mustahil ada orang yang memilih hati seorang yang tidak romantis seperti aku ini, seorangbyang tidak pekaan, seorang yang selalu membuat kesalahan pada pasangannya. Wajar kau meninggalkan aku. Aku memang salah karena melihat orang atau laki-laki lain begitu gencar untuk mendapat kan mu. Sedangkan aku? Tidak ada yang tidak pasti bagiku selain kematianku sendiri. 

Lihat saja nanti. Ya, lihat saja nanti. Kau mungkin melihat aku memiliki pasangan atau entah apalah itu. Tapi kau tidak akan melihat Cinta yang bisa dirasakan oleh orang selain engkau. 

"Banyak orang pacaran, seabrek orang menikah. Namun hanya segelintir orang yang merasakan cinta"

Sebagai manusia yang mendahului logika, kau mana mungkin sampai paham bagaimana Adam dan Hawa dipertemukan, Romeo dan Juliet, Layla dan Qais, bahkan cintanya Rasulullah kepada istri-istrinya. Cintanya Rabiah Adawiyah. Cintanya Buya Hamka. Cintanya Jalaludin Rumi. Cintanya Ibnu Arobi. Cintanya Habibi kepada Ainun. Mereka menebar puisi dan kata-kata mutiara. Manusia banyak menikmati dan menggunakan kata-kata dan puisi mereka. Namun jika kau faham kalimat ini, aku pastikan kau baru tersadar tentang Mahabbah:

"Aku pecahkan botolku. Lalu Tuhan mengisi gelasku dengan anggur merah"

Kalimatku akan sangat sulit dimengerti kali ini. Karena ini tentang perempuan. Kalian tahu sendiri kan? Untuk memahami perempuan kau bisa-bisa menjadi seorang filsuf. Karena perempuan semisteri tasawuf dan serumit filsafat. 

Terserah engkau mau beranggapan seperti apa. Terserah kalian semua mau menilai seperti apa. Innalilahi ya'lamu maa fish shuduur.

Jambi | 6 Agustus 2022
Oleh: Zulpasmi
Continue reading Pesan Ke-10

Kamis, 04 Agustus 2022

Pesan Ke-9


Hari ini kamu benar-benar telah membuktikan yang dikatakan Sujiwo Tejo itu benar:

"Berapa banyak lagi rasa sakit yang harus ku alami?" Kekasih dalam Cinta pertanyaan itu tidak diperlukan.

Benar sekali. Cinta hanya tentang kebahagiaan, bukan mempermasalahkan penderitaan. Apalagi berlarut di dalamnya. Cinta bukan masalah cara dia memperlakukanmu. Bukan soal Hal atau tidak. Cinta tetaplah cinta, jangan mengatasnamakan peduli atau tidak. Majnun pun tak pernah dipedulikan keluarga layla tapi dia tidak berpikir itu. Nu'aiman pun sering bermaksiat di depan Rasulullah, tapi Rosul tidak melihat itu Mereka hanya melihat seberapa besar cintanya tanpa dibuktikan. Karena cinta itu bukan produk hukum, bukan juga korban dalam suatu peristiwa yang harus dijelaskan kebenarannya. Cinta hanya bisa dirasakan, bukan menurut logika tapi hati nurani.

Benarkah keputusan mu? Aku rasa kau telah mendahulukan logika mu bukan hati mu. Aku tahu hati mu butuh tempat bersandar tapi logika mu mengatakan "Dia saja tidak peduli". Aku tahu hati pendampingan tapi logikamu berbisik "lupakan saja dia, dia saja tak memberi pada mu". Aku tahu sebenarnya Cinta masih ada di dalam hati mu tapi logika mu menghasut "ikhlaskan saja dia, pasti ada yang lebih baik dari dia. Coba saja dengan pria lain!"

Lagi-lagi punggung pagi ku tuliskan tentang perjalanan ku untuk mu. Meski diam-diam, dengan tuduhan-tuduhan mu dan orang-orang. Tapi Tuhan Maha Tahu apa yang ada di hati manusia. apakah engkau Tuhan? Manusia memiliki hati dan pikiran. Lupakan semua yang mencintai hal yang kamu cintai.

"Lelaki yang ku bawa dalam diriku sendiri, adalah yang berkali-kali kalah dan berkali-kali bangkit. Tidakkah membangkitkan gairahmu, kekasih?" 
-Sujiwo Tejo

Perjuangan tetap aku lanjutkan. Walau entah apa hasilnya nanti. 

Meski kau mendekat
Namu jarak masih belum berkurang
Kisah kita masih belum lengkap
Tidak perlu jika langit dan bumi bertemu
Cinta sejati adalah yang tak sampai pada tujuan

Ada warna dan cahaya saat kau di sisiku
Dunia ini sudah tampak seperti surga
Pasir waktu, sesuatu tampak seperti namaku
Kau menulisnya lalu meninggalkanku

Jika ini surga...
Kenapa aku tak melihat mu?
Rembulan dan mentari, semuanya di sini

Aku sudah lama menunggu mu
Berabad-abad lamanya
Dahaga ini sudah terduduk
Sejak lama...

Kisah kita belumlah lengkap :)

Zulpasmi | Pesan Ke-9
Jambi, 4 Agustus 2022
Continue reading Pesan Ke-9

Jumat, 29 Juli 2022

Kamis, 28 Juli 2022

Ini Bukan Pesan Ke-8


Adalah aku, yang selalu tak mengucap syukur atas nikmat Tuhan yang tak terukur.
Adalah aku, yang selalu berbuat salah dan selalu mengulanginya.
Adalah aku, yang senantiasa bangga dengan yang aku punya namun lupa dengan Tuhan yang meminjamkan.
Adalah aku, di mana orang-orang asik beramai-ramai, berkelompok-kelompok, dan aku hanya memilih menyendiri.
Adalah aku, yang tinggal di tengah hutan dan menyendiri. Menjauhi keramaian.
Adalah aku, yang setiap melihat segerombolan orang yang mengenalku, aku memutar balik dan menempuh jalan lainnya.
Adalah aku, yang senantiasa berduka entah atas dasar apa dan bagaimana bisa.
Adalah aku, yang berharap banyak pada dunia namun sering melupakan akhirat.
Adalah aku, yang selalu menyia-nyiakan kesempatan demi sesuatu yang ku anggap kebahagiaan. 

Aku telah kecewa dengan sangat banyak di dunia. Namun mengapa masih ada cinta sepersekian persen untuknya.

Aku telah mengotori cinta yang bersih dan suci dengan kalimat dusta dan hina.

Aku telah menjadi pelopor keburukan dengan membanggakan amal perbuatan yang baik saja.

Aku telah menjunjung tinggi berhala karena yang ku prioritaskan adalah hal yang berbentuk.

Secara tidak langsung aku menduakan tuhan dengan surga. Menduakan tuhan dengan pahala. Lalu aku bangga dan merasa mulia. Hingga seketika ada orang berbicara sedikit tentang ku aku merasa dijatuhkan.

Tuhan telah menampar dengan beribu kekecewaan. Namun aku bangkit dengan berjuta kecintaan. 

Tugan telah menghadirkan dunia yang fana. Namun aku acuh terhadapnya hingga lupa ada doa 'rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'azaban nar'

Hamparan hati yang luas akan terasa kosong jika tidak ada sesuatu yang dicintai di dalamnya. Perasaan yang mendalam tanpa batas tidak akan terkhianati jika ada ketulusan dan kesabaran di dalamnya.

Nurani memang berbeda dengan logika. Logika menuntut kita benar atau salah. Nurani menuntun kita untuk berperasaan dan merasa. 

Aku mencintai seseorang namun dia begitu meragukan ku. Aku memuja Tuhan namun manusia mengomentari itu. Aku beragama dengan penuh keyakinan tapi ibadahku mereka belenggu dengan kalimat yang tak seharusnya mereka lontarkannya.

Ada banyak keheningan yang aku nikmati di tengah-tengah hutan. Orang tua ku berpikir dan resah karena aku tinggal sendirian. Justru sunyi ini yang mengantarkan ku pada kedamaian. 

Terdapat beberapa bintang dan satu bulan. Juga terdapat beberapa rasa dan hanya pada satu orang. Inilah perasaan terdalam dalam kata 'sayang'. 

Dengan memeluk tanpa menyentuh. Dengan menatap dalam keadaan mata terpejam. Bermimpi dengan mata terbuka. Hingga bersanda pada angin yang lewat.

Aku bermaksud menyanjung mu, malah nyatanya aku merendahkan mu. Aku bermaksud mendekati mu, nyatanya aku membuat mu ilfil. Aku bermaksud memperdalam rasa untuk mu, tetapi tanda koma ku kau ganti dengan titik.

Inilah aku dengan berkali lipat salah san berjuta kali rasa duka yang tidak akan ada siapapun selain Tuhan yang mengetahuinya.

Terlalu banyak diam itu adalah malam. Terlalu berisik itulah siang. Terlalu indah itulah senja. Dan terlalu sejuk itulah pagi. 

Malam menyaksikan luka dan menutupi nya. Siang menyembunyikan jerit hati dengan bisingnya. Senja mengungkap janjinya. Juga pagi yang tahu bagaimana cara menyikapinya.


Continue reading Ini Bukan Pesan Ke-8

Rabu, 27 Juli 2022

Pesan Ke-7

Setiap orang pernah memulai sesuatu yang telah ia pilih. Terkadang ia terjatuh di tengah jalan, terkadang ia bangkit, terkadang ia terjatuh lagi, lalu bangkit lagi. Jatuh bangun bagai sebuah lagu dangdut. Tapi tidak dalam mengejar seseorang yang menyia-nyiakan mu. Tidak juga untuk seseorang yang telah berkhianat pada mu. Ketahuilah, cinta sejati akan tetap bersama selamanya. Sedangkan cinta yang palsu ia hanya akan menebar debu di atas bumi. Sudah lah aku bosan berceritang apa dan siapa. Kali ini akan aku ceritakan bagaimana bisa aku sekarang terbentuk. Pesan kali ini sedikit rumit, bahkan kalian yang membaca pun juga akan sukit untuk memahaminya. 

Kita mulai dari beberapa tahun yang lalu. Saat hati hanya diisi oleh seorang santriwati yang ternyata pembohong besar dan suka memfitnah. Layaknya seorang psikopat yang manipulatif. Setelah aku belajar tentang dunia psikopat aku jadi paham apa yang telah dia lakukan dulu kepada ku. Dia berasal dari salah satu kabupaten di kota ku. Sebut saja Sarolangun. Tahukah kalian, tanpa melakukan apapun aku dianggap mengkhianati dirinya. Waw. Aku yang polos terima-terima saja perlakuannya. Seolah akulah yang berkhianat. Padahal dialah orang yang sangat laknat. Sekarang dia sedang merasakan akibatnya. Antara sedang atau sedih. Namun aku bahagia saja melihat dia yang tak sadar telah membuat malu keluarganya sendiri. 

Lanjut, kita pergi ke kota Surabaya. Di mana ada gadis yang katanya solehah keluarga dari pengurus Pondok Pesantren "L" . Setiap malam dia menelpon, bahkan berniat ingin menemui ku. Na'as nya, lagi-lagi wanita yang katanya solehah ini ternyata tidak ada bedanya wanita sebelumnya. Bahkan lebih bejat dari yang aku kira. Dia mengaku pergi ke Palembang tempat nenek nya berada dan di sana katanya ia dijodohkan. Semalam sebelum menikah dia menelpon ku dan terdengarlah isak tangis nya. Seolah benar-benar sedih, ternyata air mata kadal saja. Dia hilang kabar yang kemudian ada seseorang mengaku bernama Felin chat diriku dengan isi pesan yang mengabarkan bahwa dirimu koma beberapa hari dengan menyebut-nyebut nama ku. Aku tak habis pikir, rekayasa seperti itu dari mana dia dapatkan. Cocok jadi pengarang film-film di Indosiar. Setelah beberapa tahun lamanya, dia menghubungi ku dengan polosnya dia bertanya siapa namanya. Padahal dialah peletak batu dendam di dasar lautan hati ku. Sampai aku pernah berkata kepada seseorang "aku akan membunuh nya jika aku tahu siapa dia sebenarnya". Iya, perkataan ini tidak bisa dibantah. Atas nama Tuhan dia bersumpah, atas nama Agam pula dia berjanji. Inilah hinaan terhadap Tuhan yang sebenarnya. Aku lihat postingan-postingannya tentang agama. Aku berpesan kepada mu. Jika kamu menyadari ini, bertaubatlah! jangan menipu manusia dan Tuhannya. Kau wanita pertama yang akan aku tandai jika tahu identitas aslimu. 

Lupakan wanita bejat itu. Kita lanjut ke wanita selanjutnya. Bercadar, ingin hijrah, dan bergaya ingin belajar agama. Aku hargai itu. Namun aku tidak mentoleran lagi kalimat-kalimat manis dari mu. Sudah lah wanita ini pasti sudah dikenal dengan teman-teman dekat ku, khususnya di kampusku. Dia juga yang menbuat saya, tidak menyukai wanita bercadar. Walaupun tidak semua wanita bercadar sama dengannya. Dia harus kalian tuntut jika kalian ingin mengubah pandangan ku ini. 

Begitu dahsyatnya, silih berganti hadir kembali wanita yang menjadi wanita yang paling aku benci. Dia dari kampung ku sendiri. Tidak besar kesalahannya. Namun hanya satu. Mengambil foto dengan ku saat berada di dalam masjid dan sebuah acara sedang berlangsung. Perlu aku ingatkan, aku tidak suka itu. Aku tidak ingin munafik dengan atas nama Agama dan Tuhan. Baik ya baik, buruk ya buruk. Cam kanlah itu jika kau membaca pesan ini. 

Terakhir, penutup. Wanita yang ada ku jadikan sebuah buku "Kelinci Putih". Tidak perlu dijelaskan kejamnya dia. Teman satu kontrakan ku dulu dan Tuhan lah yang tahu. Tentang Janji, Sumpah, dan Buaian nya. Tidak ada gunanya sekarang. Aku telah kurni berbuat untuk Tuhan bukan untuk nya lagi. 

"Apa itu janji? Apakah semacam dongen yang dipuitisasi?"

Banyak orang berlomba-lomba mengejar cinta sejatinya. Pada akhirnya mereka tetap akan sampai pada Yang Maha Cinta. Entah itu dengan mulia atau dengan Hina. Semua kalian lah yang menentukan. 

Aku bertemu dengan orang yang telah menghapus dendam, dengki, dan amarah itu. Membuat percaya bahwa perempuan itu lembut bagai sutra, semisteri filsafat, dan sedalam tasawuf. Tak perlu jauh-jauh jika kalian masih bersama ibu kalian, lihatlah dia. Jika kalian masih bersama kekasih kalian, lihatlah dia. Jika kalian memiliki kakak perempuan, lihatlah dia. Mereka itu adalah wanita-wanita yang bisa menghapuskan semua sifat negatif ini. Dengan syarat, tertanamnya cinta Ilahiyyah di hati mu kepada mereka. 

Sungguh pun demikian rumitnya kisah hidup ku maupun kisah hidup kalian. Percayalah Tuhan sutradara terbaik dengan kisa hidup yang baik pula. Sungguh pun sakit hati yang aku maupun kalian alami. Yakinlah bahwa Tuhan sedang merangkul jiwa mu sambil berteriak "Labbaikallahuma labbaik".

"Tuhan itu maha asyik. Terkadang untuk menyelamatkan mu dari orang yang salah, ia mematahkan hati mu"

Mengertilah bahasa Tuhan melalui sakitnya jiwa dan ragamu. Pelajarilah nikmat Tuhan melaui kekasih mu yang dahulu dan yang akan bersama mu kelak. Beribadahlah dengan penuh kesadaran dan cinta. Tanpa cinta semua akan tertolak dan sia-sia. 

Kalian akan memahami satu hal tentang pesan-pesan ku setiap malam. Kalian akan tahu sedikit demi sedikit tentang dirimu dan aku. Semua berum berakhir, naskah Tuhan masih tertulis panjang entah panjangnya sampai nanti, besok, atau beberapa hari lagi. Jadi kalian tidak akan bisa membuat kesimpilan dari sekian tahun nya kamu hidup. Semoga kita bertemu lagi pada pesan selanjutnya. 

Wallahua'lam
Continue reading Pesan Ke-7